Wednesday, 10 February 2016

Virus zika

(Sumber di akhir post)
Peneliti Indonesia 'punya konstruksi'
vaksin untuk virus Zika

Chairul Anwar Nidom dari Pusat Penelitian Flu
Burung Universitas Airlangga, AIRC,
mengatakan, pihaknya telah memiliki
konstruksi vaksin atau mock-up yang dapat
digunakan untuk mengatasi virus Zika.
Dia yakin bahwa dalam waktu enam bulan -
dengan kerja sama dari industri vaksin dan
pemerintah Indonesia- maka peneliti dari
AIRC dapat menyempurnakan vaksin Zika
yang siap diaplikasikan ke manusia.
“Kami siap menerima tawaran mereka,”
tegasnya.
Namun Kementerian Kesehatan Indonesia
mengatakan saat ini pembuatan vaksin Zika
bukan prioritas.
Virus Zika dikaitkan dengan fenomena
mikrosefalus pada bayi yang baru lahir di
Brazil, dan juga dideteksi di Indonesia meski
hanya menyebabkan gejala klinis ringan.
Indonesia lebih cepat dari AS?
Sebelumnya, kelompok ilmuwan di Amerika
Serikat menyatakan butuh minimal dua tahun
untuk mengembangkan vaksin virus Zika, dan
10-12 tahun lagi sampai disetujui regulator
untuk digunakan masyarakat.
Namun Nidom menyatakan para peneliti di
AIRC dapat melakukannya dengan lebih cepat
melalui sejumlah teknologi, termasuk
teknologi reverse genetics yaitu mengubah
virus di alam dengan mutasi gen menjadi
virus yang dikehendaki. Teknik ini, kata
Nidom, telah biasa digunakan kepada virus
influenza dan beberapa virus lain.
Teknologi lainnya ialah knock-out flu virus ,
yaitu mengambil fragmen DNA dari virus
influenza lalu menggantinya dengan fragmen
dari virus target vaksin. “Seperti memodifikasi
bagian tertentu dari mobil,” jelas Nidom.
Dengan kedua metode tersebut, peneliti di
AIRC tidak membutuhkan virus utuh
sebagaimana peneliti AS.
“Mereka baru yakin akan sebuah vaksin itu
kalau menggunakan virus hidup, dan itu
tergantung bagaimana mereka mengelola dan
mengerjakannya di tingkat laboratoriumnya,”
tutur Nidom.
Ia menambahkan, para peneliti di negara lain
mungkin tidak menguasai atau tidak
memegang paten terhadap teknologi yang ia
jelaskan. “Jadi mereka harus mengurus paten
dan sebagainya kan.”
Selain itu dari aspek regulasi, menurut Nidom,
untuk kasus Zika tidak diperlukan regulasi
yang ketat sebagaimana virus biasa. Hal itu
karena virus Zika tergolong Kejadian Luar
Biasa (KLB)
“Kalau dalam kondisi biasa, untuk
mengendalikan penyebaran penyakit, tidak
kurang dari waktu 4-5 tahun, karena proses
pengujian dan regulasi nasional maupun
internasional sangat ketat.
“Tetapi ada proses lain yaitu proses
pembuatan vaksin dalam keadaan KLB. Ada
regulasi yang bisa dilewati mengingat
bahayanya terhadap nyawa manusia.”
Kerja sama
Nidom mengatakan perlu kerja sama antara
lembaga riset, industri vaksin, dan pemerintah
untuk mewujudkan vaksin ini.
Ia membagi enam bulan ke dalam tiga fase.
Pertama, fase konstruksi vaksin selama dua
bulan. Kemudian dua bulan berikutnya dalam
fase formulasi dan delivery, yang dilakukan
oleh industri vaksin.
“Saat kami mengerjakan fase konstruksi
industri bisa mulai merancang formulasi dan
nanti kira-kira delivery -nya apa, apakah lewat
tetes mata atau suntik dan sebagainya.”
Dua bulan terakhir, yaitu fase uji pre-klinis.
Dalam fase ini pusat riset dan industri
melakukan berbagai uji coba, termasuk uji
terhadap hewan. Sementara itu, pemerintah
menyiapkan transportasi vaksin tersebut,
untuk disampaikan ke masyarakat.
Meski demikian, juru bicara kementerian
kesehatan mengatakan, pada saat ini
pemerintah belum fokus kepada pembuatan
vaksin virus Zika.
"Di kementerian maupun di Litbang (Badan
Penelitian dan Pengembangan) belum ada
konsep dasar untuk pembuatan vaksin Zika,"
ujar Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan
Masyarakat Kemenkes Oscar Primadi.
Oscar mengatakan, pemerintah lebih fokus
dalam menangani penyakit demam berdarah;
sementara upaya penanganan Zika lebih
berfokus pada pencegahan.
"Karena memang vektornya sama (dengan
demam berdarah, yaitu nyamuk Aedes
Aegepty), persoalan awalnya sama -masalah
lingkungan, air tergenang... (pencegahan) itu
yang kita lakukan. Tapi soal vaksin, saya
pahami di kementerian belum ada kebijakan
untuk melangkah sejauh itu," ujarnya.
4 Hal Seputar Virus Zika yang Perlu
Diketahui
Virus Zika dapat menyebabkan infeksi pada
manusia dengan ditularkan melalui nyamuk
dari genus Aedes. Simak 4 hal seputar virus
Zika yang perlu diketahui.

Di Indonesia, Lembaga Eikjman telah
melaporkan kehadiran virus zika kepada
Kementerian Kesehatan. Peneliti Eikjman
Institute menemukan virus tersebut saat
terjadi wabah demam dengue di Provinsi
Jambi pada periode Desember 2014 sampai
April 2015.
Memang, hingga saat ini belum ada pasien
yang divonis terinfeksi virus Zika di Indonesia
meski virusnya sudah ditemukan. Tapi tak ada
salahnya jika kita mengetahui tentang virus
satu ini, sebab bagaimana pun, tetap saja
semua virus harus diwaspadai. Berikut 4 hal
seputar virus Zika yang perlu diketahui.
Apa itu Virus Zika?
Virus Zika adalah anggota dari keluarga
Flaviviridae dan ditularkan ke manusia oleh
nyamuk. Orang yang terjangkit virus Zika
akan merasakan gejala seperti sakit kepala,
ruam di wajah, leher, lengan atas, mungkin
juga menyebar ke telapak tangan dan kaki,
demam dan nyeri punggung.
Dapatkah berakibat fatal?
Virus Zika memang tidak menyebabkan
kelainan berat seperti demam berdarah, meski
Zika merupakan flavivirus yang berhubungan
dengan demam kuning, demam berdarah, West
Nile dan virus ensefalitis Jepang.
Akan tetapi, virus ini dapat menimbulkan
risiko terhadap janin pada wanita hamil. Virus
telah dikaitkan dengan mikrosefali, sebuah
kondisi dimana bayi memiliki kepala kecil dan
perkembangan otak yang tidak lengkap.
Kelahiran bayi dengan mikrosefali di Brazil
mengalami lonjakan tajam pada tahun 2015.
Namun, menurut Centers for Disease Control
and Pervention (CDC), butuh lebih banyak
informasi untuk menyimpulkan keterkaitan itu.
“Karena ada banyak penyebab mikrosefali
pada bayi, butuh waktu untuk menentukan
penyebab kasus ini,” ujar salah satu juru
bicara CDC pada Time.
Penyebaran Virus Zika
Virus Zika dianggap sebagai penyakit menular
yang muncul dengan potensi untuk menyebar
ke daerah-daerah baru di mana ada nyamuk
Aedes. Keberadaan virus Zika telah dilaporkan
di daerah Afrika, Asia Tenggara, Kepulauan
Pasifik dan baru-baru ini di Amerika Latin dan
Karibia.
Apakah sudah ada vaksin atau obatnya?
Saat ini belum ada vaksin atau obat untuk
mencegah demam Zika. Kita dan terutama ibu
hamil dapat melindungi diri dengan mencegah
gigitan nyamuk dan menjaga kesehatan
tubuh.

www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/02/160209_indonesia_vaksin_zika
( Lutfi Fauziah/Sumber: Time. National
Geographic Indonesia, Kompas.com )

No comments:

Post a Comment