Sunday, 17 January 2016

Muatabah


Muatabah berakar dari kata
“ taba ” yang karena pengaruh
perubahan bentuk bisa menjadi
kata ” inabah” atau “ muatabah ”.
Kata ini secara hakiki mempunyai
arti penyesalan.
Secara lughowi, kata ini
bisa dilihat pengertiannya dalam
dua kitab karangan al-Ghazali,
yaitu kitab Ihya’ul ulumuddin dan
kitabnya Raudhah yang
menerangkan sebagai berikut;
taubat atau muatabah adalah
meninggalkan dosa-dosa seketika
dan bertekad untuk tidak
melakukannya lagi, atau taubat
adalah kembali dari maksiat
menuju taat. Kembali dari jalan
yang jauh menuju jalan yang
dekat. Dengan demikian, orang
yang bertaubat adalah orang yang
berhenti melanggar larangan-
larangan Allah dan kembali untuk
melaksanakan perintah-Nya.
Berhenti berbuat maksiat dan
patuh serta mencintai Allah.
Berhenti melakukan hal-hal yang
dibenci Allah dan berusaha
menjalani apa yang diridhoi dan
disenangi-Nya dan ia merasa
bersedih hati atas dosa-dosa yang
pernah dilakukannya.
Taubatmenimbulkan
perasaan duka cinta yang terhujam
dalam lubuk hati, mengganggu
tidurnya, menumbuhkan rasa
penyesalan yang mendalam dan
membangkitkan semangat yang
bulat untuk melepaskan noda dan
dosa yang pernah dilakukannya
dan bertekad memulai kehidupan
yang lebih baik. Taubat dalam
pengertian demikian artinya taubat
nasuhah, maksudnya adalah taubat
yang sesunggunya, yang bukan
hanya terucap di lisan disertai
dengan pengucapan lafadz istighfar
sebagai tanda penyesalan, tetapi
yang lebih penting dari itu adalah
suatu upaya untuk mejauhi dan
tidak mengulangi perbuatan dosa
yang pernah dilakukan untuk
kedua kalinya.
Al-Ghazali menetapkan ada
beberapa perkara yang menjadi
rukun taubat yaitu pengetahuan,
sesal, niat dan meninggalkannya.
Kemudian, menurut kalangan ahli
tasawuf, taubat dibagi menjadi tiga
tingkatan yaitu: pertama, taubat
yang dilakukan secara umum, yang
dilakukan bila seseorang telah
melakukan perbuatan yang
menyimpang dari aturan-aturan
yang telah digariskan oleh agama.
Taubat ini barangkali bisa disebut
dengan taubatul ‘am (taubat secara
umum). Taubat pada tingkatan ini
mempunyai pengertian secara
umum, yaitu lari dari maksiat
kepada taat semata-mata karena
takut akan murka dan siksaan-Nya.
Taubat ini adalah taubat orang-
orang yang beriman (QS. An-Nur:
31).
Kedua, inabah, yaitu
kembali dari yang baik menuju
yang lebih baik demi memohon
keridhaan Allah. Taubat pada
tingkatan yang kedua ini akan
senantiasa menimbulkan upaya
untuk meningkatkan kualitas dan
mutu ibadah seseorang pada
tingkat yang akhir yaitu
kesempurnaan. Taubat pada
tingkatan ini didasari oleh
perasaan bahwa ibadah selama ini
dilakukan masih jauh dari
kesempurnaan dan masih kurang,
dan kekurangan ini dianggap
sebagai satu kesalahan yang
melandasi upaya pertaubatan.
Taubat ini juga menjadi sifat para
sufi yang mengajak dari hal satu
menuju pada hal yang lain (QS.
Qaf: 32-33).
Ketiga, taubatar rasul , yaitu
pertaubatan yang dilakukan oleh
para Nabi dan Rasul. Taubat pada
tingkatan ini tidak dimaksudkan
untuk mengharap pahala apalagi
karena takut akan siksa. Bukankah
Nabi dan Rasul adalah manusia-
manusia ma’sum, yang dijaga dari
dosa.

No comments:

Post a Comment