Saturday, 19 December 2015

Sejarah topi kerucut (Tahun Baru dan Ulang Tahun)

Topi Tahun Baru yg berbentuk kerucut
ternyata adalah topi dengan bentuk yang di
sebut SANBENITO, yakni topi yg digunakan
Muslim Andalusia untuk menandai bahwa
mereka sudah murtad dibawah penindasan
Gereja Katholik Roma yang menerapkan
INKUISISI SPANYOL.
SANBENITO, TANDA MUSLIM TELAH MURTAD
SANBENITO adalah sebuah pakaian yang
menandakan bahwa seorang muslim di
Andalusia saat itu telah murtad.
Bagaimana bentuk pakaian itu? Jubah dan
topinya??
SANGAT IRONIS!
Kini, 6 abad setelah peristiwa yang sangat
sadis tersebut berlalu, para remaja muslim,
anak-anak muslim justru memakai pakaian
SANBENITO untuk
merayakan tahun baru masehi dan merayakan
ulang tahun.
Meniup trompet-terompet ala topi SANBENITO
di saat pergantian tahun.
Perayaan-perayaan yang sama sekali tidak
pernah dicontohkan oleh Rasulullah yang
justru nyata-nyata berasal dari kaum Kafir.
Kaum yang telah merampas kejayaan Muslim
Andalusia, dan menghancurkan sebuah
peradaban maju Islam, Andalusia.
Setelah kita tahu sejarah ini, apakah kita
masih tega memakai SANBENITO? atau
membiarkan anak-anak, adik-adik, sahabat-
sahabat kita memakainya? padahal 6 abad
yang lalu, SANBENITO adalah pakaian tanda
seorang muslim telah MURTAD.
Tak hanya tahun baru, ternyata perayaan
ulang tahun dan ospek atau lebih di kenal
dengan orientasi siswa baru pin kerap
menggunakan topi berbentuk kerucut,
merupakan simbol seseorang telah menjadi
murtad.
Tak disadari Sanbenito sudah di pakai sejak
orientasi siswa tingka SD sampai perguruan
tinggi.
Maka, orang tua yang merayakan anaknya
ulang tahun, disertai topi kerucut, seraya
mendoakan anaknya menjadi anak yang
sholeh-sholehah, sama saja membuat
pengumuman resmi anaknya telah murtad.
Mau tahu bagaimana sejarah topi kerucut
yang identik dengan moment perayaan ulang
tahun tersebut?  Dalam kajian Kristologi yang
disampaikan Irena Handono, dahulu, pada
masa Raja Ferdinand dan Ratu Isabela
(keduanya penganut Kristiani) berkuasa di
Andalusia -- ketika kaum muslimin dibantai –
keduanya memberi jaminan hidup kepada
orang Islam dengan satu syarat, yakni keluar
dari Islam.
Maka untuk membedakan mana yang sudah
murtad dan mana yang belum adalah ketika
seorang muslim menggunakan baju seragam
dan topi berbentuk kerucut dengan
nama Sanbenito. Jadi, Sanbenito adalah
sebuah tanda berupa pakaian khusus untuk
membedakan mana yang sudah di-
converso (murtad).
“Saat itu umat Islam di Andalusia dibantai,
kecuali yang memakai Sanbenito. Itu sama
artinya bersedia mengikuti agama Ratu
Isabela. Topi ala Sanbenito itulah sebagai
simbol orang Islam yang sudah murtad. Topi
itu digunakan saat keluar rumah, termasuk
ketika ke pasar. Dengan menggunakan
sanbenito, mereka aman dan tidak dibunuh,”
ungkap Irena.
Setelah pembantaian selesai, agenda Ratu
Isabela selanjutnya adalah mengejar muslim
yang lari dan bersembunyi ke Amerika
Selatan. Orang Islam yang tertangkap lalu
diseret ke lembaga inkuisi (penyiksaan) yang
dilaksanakan oleh orang gereja. Adapun
pastur pertama yang ditunjuk Ferdinand dan
Isabela untuk melaksanakan inkuisi adalah
pastur bernama  Torquemada. Ia adalah
Jenderal Yahudi yang dikenal sebagai
pembantai umat Islam Andalusia.
Bukan hanya orang Islam saja yang diseret ke
lembaga inkuisisi, tapi juga orang yahudi
yang menolak masuk Kristen. Di tanah
lapang,  mereka kemudian ada yang dibakar
hidup-hidup, ada pula yang disiksa dengan
kayu yang diruncingkan sehingga bokongnya
akan tertusuk. Penyiksaan lainnya ada yang
dipatahkan kakinya. Kekejaman inkuisisi itu
memang hendak membuat mati seseorang
dengan secara perlahan, bahkan sambil
tersenyum. Sadis!
“Ini menunjukan, Kaum Kristiani yang katanya
memiliki slogan kasih, ternyata ahli di bidang
penyiksaan, dan pembantai Muslim dan
Yahudi. Jadi, jangan dikira lembaga inkuisisi
itu sudah tidak ada lagi. Juga jangan mengira
Knight Templar itu sudah tidak ada. Lembaga
Inkuisisi dan Knight Templar itu masih ada
hingga saat ini. Buktinya, George W Bush
pernah mengatakan, ia diperintah Tuhan untuk
melakukan pembantaian dengan menyebut
Muslim sebagai teroris,” papar Irena.
Perang Media & Pemikiran
Irena Handono mengimbau, agar seluruh
aktivis Islam menguasai media. Ia
mengingatkan, bahwa saat ini, kita sedang
perang media, pemikiran, budaya, dan
peradaban (Ghazwul Fikr).  Menurutnya,
perang itu ada dua macam, yakni: Perang
Berdarah ( War With Blood ) dan Perang Tidak
Berdarah ( War Without Blood ).
Perang berdarah, kata Irena, adalah perang
konvensional (dibunuh lalu mati - selesai).
Tapi kalau perang tidak berdarah,
sesungguhnya jauh lebih jahat dari perang
berdarah. Nah, untuk menghadapi perang
tanpa darah, kita harus menggunakan strategi
dengan media yang sama.
Irena Center misalnya, telah membuka kajian
online, melalui jejaring social Facebook (FB)
dan Twiter. Saat ini Irena Handono I
pengikutnya sudah mencapai 5.000. Begitu
juga akun Irena II dan Irena III. Sedangkan
untuk akun tokoh jumlah pengikutnya sudah
mencapai 79.784. 000.  Menariknya lagi, di
kalangan pesantren kini juga telah membuka
kajian Kristologi.
“Untuk kajian Kristologi via online, diantara
pesertanya ada yang dari beberapa negara,
seperti Brunei Darussalam, Swedia,  Amerika
Serikat, Autsralia, bahkan seorang tenaga
kerja asal Indonesa yang bekerja di Iran.
Mereka datang dari berbagai profesi, mulai
dari dokter spesialis, teknisi, maupun birokrat.
Intinya, kita harus all out (habis-habisan)
menghadapi perang tidak berdarah,” ungkap
Irena. [jabir/des/voa-islam.com

Sumber : voa-islam.com

No comments:

Post a Comment