Saturday, 19 December 2015

Hukum Mengucapkan Selamat Natal

Bolehkah Seorang Muslim Mengucapkan
‘Selamat Natal’?
Alhamdulillahi robbil ‘alamin, wa shalaatu wa
salaamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala
alihi wa shohbihi wa sallam.
Sudah sering kita mendengar ucapan
semacam ini menjelang perayaan Natal yang
dilaksanakan oleh orang Nashrani. Mengenai
dibolehkannya mengucapkan selamat natal
ataukah tidak kepada orang Nashrani,
sebagian kaum muslimin masih kabur
mengenai hal ini. Sebagian di antara mereka
dikaburkan oleh pemikiran sebagian orang
yang dikatakan pintar (baca : cendekiawan),
sehingga mereka menganggap bahwa
mengucapkan selamat natal kepada orang
Nashrani tidaklah mengapa (alias ‘boleh-
boleh saja’). Bahkan sebagian orang pintar
tadi mengatakan bahwa hal ini diperintahkan
atau dianjurkan.
Namun untuk mengetahui manakah yang
benar, tentu saja kita harus merujuk pada Al
Qur’an dan As Sunnah, juga pada ulama yang
mumpuni, yang betul-betul memahami agama
ini. Ajaran islam ini janganlah kita ambil dari
sembarang orang, walaupun mungkin orang-
orang yang diambil ilmunya tersebut
dikatakan sebagai cendekiawan. Namun
sayang seribu sayang, sumber orang-orang
semacam ini kebanyakan merujuk pada
perkataan orientalis barat yang ingin
menghancurkan agama ini.
Mereka berusaha mengutak-atik dalil atau
perkataan para ulama yang sesuai dengan
hawa nafsunya. Mereka bukan karena ingin
mencari kebenaran dari Allah dan Rasul-Nya,
namun sekedar mengikuti hawa nafsu. Jika
sesuai dengan pikiran mereka yang sudah
terkotori dengan paham orientalis, barulah
mereka ambil. Namun jika tidak bersesuaian
dengan hawa nafsu mereka, mereka akan tolak
mentah-mentah. Ya Allah, tunjukilah kami
kepada kebenaran dari berbagai jalan yang
diperselisihkan –dengan izin-Mu-
Semoga dengan berbagai fatwa dari ulama
yang mumpuni ini, kita mendapat titik terang
mengenai permasalahan ini.
Fatwa Pertama – Mengucapkan Selamat Natal
dan Merayakan Natal Bersam a
Berikut adalah fatwa ulama besar Saudi
Arabia, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al
Utsaimin rahimahullah, dari kumpulan risalah
(tulisan) dan fatwa beliau (Majmu’ Fatawa wa
Rosail Ibnu ‘Utsaimin), 3/28-29, no. 404.
Beliau rahimahullah pernah ditanya,
“Apa hukum mengucapkan selamat natal
(Merry Christmas) pada orang kafir (Nashrani)
dan bagaimana membalas ucapan mereka?
Bolehkah kami menghadiri acara perayaan
mereka (perayaan Natal)? Apakah seseorang
berdosa jika dia melakukan hal-hal yang
dimaksudkan tadi, tanpa maksud apa-apa?
Orang tersebut melakukannya karena ingin
bersikap ramah, karena malu, karena kondisi
tertekan, atau karena berbagai alasan lainnya.
Bolehkah kita tasyabbuh (menyerupai) mereka
dalam perayaan ini?”
Beliau rahimahullah menjawab :
Memberi ucapan Selamat Natal atau
mengucapkan selamat dalam hari raya mereka
(dalam agama) yang lainnya pada orang kafir
adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan
kesepakatan para ulama (baca : ijma’ kaum
muslimin), sebagaimana hal ini dikemukakan
oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam
kitabnya ‘Ahkamu Ahlidz Dzimmah’. Beliau
rahimahullah mengatakan,
“Adapun memberi ucapan selamat pada
syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi
orang-orang kafir (seperti mengucapkan
selamat natal, pen) adalah sesuatu yang
diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan)
kaum muslimin. Contohnya adalah memberi
ucapan selamat pada hari raya dan puasa
mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini
adalah hari yang berkah bagimu’, atau
dengan ucapan selamat pada hari besar
mereka dan semacamnya.” Kalau memang
orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat
dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos
dari perkara yang diharamkan.
Ucapan selamat hari raya seperti ini pada
mereka sama saja dengan kita mengucapkan
selamat atas sujud yang mereka lakukan pada
salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar
dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat
semacam ini lebih dibenci oleh Allah
dibanding seseorang memberi ucapan selamat
pada orang yang minum minuman keras,
membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat
pada maksiat lainnya.
Banyak orang yang kurang paham agama
terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang
semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari
amalan yang mereka perbuat.
Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan
selamat pada seseorang yang berbuat
maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia
pantas mendapatkan kebencian dan murka
Allah Ta’ala.” –Demikian perkataan Ibnul
Qoyyim rahimahullah-
Dari penjelasan di atas, maka dapat kita
tangkap bahwa mengucapkan selamat pada
hari raya orang kafir adalah sesuatu yang
diharamkan. Alasannya, ketika mengucapkan
seperti ini berarti seseorang itu setuju dan
ridho dengan syiar kekufuran yang mereka
perbuat. Meskipun mungkin seseorang tidak
ridho dengan kekufuran itu sendiri, namun
tetap tidak diperbolehkan bagi seorang
muslim untuk ridho terhadap syiar kekufuran
atau memberi ucapan selamat pada syiar
kekafiran lainnya karena Allah Ta’ala sendiri
tidaklah meridhoi hal tersebut. Allah Ta’ala
berfirman,
“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah
tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak
meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika
kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu
kesyukuranmu itu.” (QS. Az Zumar [39] : 7)
Allah Ta’ala juga berfirman,
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk
kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan
kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai
Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al Maidah
[5] : 3)
Apakah Perlu Membalas Ucapan Selamat
Natal?
Memberi ucapan selamat semacam ini pada
mereka adalah sesuatu yang diharamkan, baik
mereka adalah rekan bisnis ataukah tidak.
Jika mereka mengucapkan selamat hari raya
mereka pada kita, maka tidak perlu kita jawab
karena itu bukanlah hari raya kita dan hari
raya mereka sama sekali tidak diridhoi oleh
Allah Ta’ala. Hari raya tersebut boleh jadi hari
raya yang dibuat-buat oleh mereka (baca :
bid’ah). Atau mungkin juga hari raya tersebut
disyariatkan, namun setelah Islam datang,
ajaran mereka dihapus dengan ajaran Islam
yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam dan ajaran Islam ini adalah ajaran
untuk seluruh makhluk.
Mengenai agama Islam yang mulia ini, Allah
Ta’ala sendiri berfirman,
“Barangsiapa mencari agama selain agama
Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima
(agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat
termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali
Imron [3] : 85)
[Bagaimana Jika Menghadiri Perayaan Natal?]
Adapun seorang muslim memenuhi undangan
perayaan hari raya mereka, maka ini
diharamkan. Karena perbuatan semacam ini
tentu saja lebih parah daripada cuma sekedar
memberi ucapan selamat terhadap hari raya
mereka. Menghadiri perayaan mereka juga
bisa jadi menunjukkan bahwa kita ikut
berserikat dalam mengadakan perayaan
tersebut.
[Bagaimana Hukum Menyerupai Orang Nashrani
dalam Merayakan Natal?]
Begitu pula diharamkan bagi kaum muslimin
menyerupai orang kafir dengan mengadakan
pesta natal, atau saling tukar kado (hadiah),
atau membagi-bagikan permen atau makanan
(yang disimbolkan dengan ‘santa clause’ yang
berseragam merah-putih, lalu membagi-
bagikan hadiah, pen) atau sengaja meliburkan
kerja (karena bertepatan dengan hari natal).
Alasannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
ﻱَ ﺗَﺸَﺐَّ ﺑِﻘَﻯِﻮٍ ﻓَﻬُﻰَ ﻱِ ﻫُُِﻰِ
”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum,
maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR.
Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam
Iqtidho’ mengatakan bahwa sanad hadits ini
jayid/bagus)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya
Iqtidho’ Ash Shirothil Mustaqim mengatakan,
“Menyerupai orang kafir dalam sebagian hari
raya mereka bisa menyebabkan hati mereka
merasa senang atas kebatilan yang mereka
lakukan. Bisa jadi hal itu akan mendatangkan
keuntungan pada mereka karena ini berarti
memberi kesempatan pada mereka untuk
menghinakan kaum muslimin.” -Demikian
perkataan Syaikhul Islam-
Barangsiapa yang melakukan sebagian dari
hal ini maka dia berdosa, baik dia
melakukannya karena alasan ingin ramah
dengan mereka, atau supaya ingin mengikat
persahabatan, atau karena malu atau sebab
lainnya. Perbuatan seperti ini termasuk cari
muka (menjilat), namun agama Allah yang
jadi korban. Ini juga akan menyebabkan hati
orang kafir semakin kuat dan mereka akan
semakin bangga dengan agama mereka.
Allah-lah tempat kita meminta. Semoga Allah
memuliakan kaum muslimin dengan agama
mereka. Semoga Allah memberikan
keistiqomahan pada kita dalam agama ini.
Semoga Allah menolong kaum muslimin atas
musuh-musuh mereka. Sesungguhnya Dia-lah
Yang Maha Kuat lagi Maha Mulia.
Fatwa Kedua – Berkunjung Ke Tempat Orang
Nashrani untuk Mengucapkan Selamat Natal
pada Mereka
Masih dari fatwa Syaikh Muhammad bin
Sholeh Al Utsaimin rahimahullah dari Majmu’
Fatawa wa Rosail Ibnu ‘Utsaimin, 3/29-30,
no. 405.
Syaikh rahimahullah ditanya : Apakah
diperbolehkan pergi ke tempat pastur
(pendeta), lalu kita mengucapkan selamat hari
raya dengan tujuan untuk menjaga hubungan
atau melakukan kunjungan?
Beliau rahimahullah menjawab :
Tidak diperbolehkan seorang muslim pergi ke
tempat seorang pun dari orang-orang kafir,
lalu kedatangannya ke sana ingin
mengucapkan selamat hari raya, walaupun itu
dilakukan dengan tujuan agar terjalin
hubungan atau sekedar memberi selamat
(salam) padanya. Karena terdapat hadits dari
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
ﻻَ ﺗَﺒِﺬَﺀُﻭﺍ ﺍﻧْﻴَﻬُﻯﺪَ ﻭَﻻَ ﺍﻥ ﺻََُّﺎﺭَﻱ ﺑِﺎﻧﺴَّﻼَﻭِ
“Janganlah kalian mendahului Yahudi dan
Nashara dalam salam (ucapan
selamat).” (HR. Muslim no. 2167)
Adapun dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam pernah berkunjung ke tempat orang
Yahudi yang sedang sakit ketika itu, ini
dilakukan karena dulu ketika kecil, Yahudi
tersebut pernah menjadi pembantu Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala Yahudi
tersebut sakit, Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam menjenguknya dengan maksud untuk
menawarkannya masuk Islam. Akhirnya,
Yahudi tersebut pun masuk Islam.
Bagaimana mungkin perbuatan Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
mengunjungi seorang Yahudi untuk
mengajaknya masuk Islam, kita samakan
dengan orang yang bertandang ke non muslim
untuk
menyampaikan selamat hari raya untuk
menjaga hubungan?! Tidaklah mungkin kita
kiaskan seperti ini kecuali hal ini dilakukan
oleh orang yang jahil dan pengikut hawa
nafsu.
Fatwa Ketiga - Merayakan Natal Bersama
Fatwa berikut adalah fatwa Al Lajnah Ad
Daimah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal
Ifta’ (Komisi Tetap Urusan Riset dan Fatwa
Kerajaan Arab Saudi) no. 8848.
Pertanyaan : Apakah seorang muslim
diperbolehkan bekerjasama dengan orang-
orang Nashrani dalam perayaan Natal yang
biasa dilaksanakan pada akhir bulan
Desember? Di sekitar kami ada sebagian
orang yang menyandarkan pada orang-orang
yang dianggap berilmu bahwa mereka duduk
di majelis orang Nashrani dalam perayaan
mereka. Mereka mengatakan bahwa hal ini
boleh-boleh saja. Apakah perkataan mereka
semacam ini benar? Apakah ada dalil syar’i
yang membolehkan hal ini?
Jawab :
Tidak boleh bagi kita bekerjasama dengan
orang-orang Nashrani dalam melaksanakan
hari raya mereka, walaupun ada sebagian
orang yang dikatakan berilmu melakukan
semacam ini. Hal ini diharamkan karena
dapat membuat mereka semakin bangga
dengan jumlah mereka yang banyak. Di
samping itu pula, hal ini termasuk bentuk
tolong menolong dalam berbuat dosa.
Padahal Allah berfirman,
ﻭَﺗَﻌَﺎﻭَ ﻯَُﺎ ﻋَﻪَ ﺍﻧْﺒِﺮِّ ﻭَﺍﻧﺘَّﻘْﻯَﻲ ﻭَﻧَﺎ ﺗَﻌَﺎﻭَ ﻯَُﺎ ﻋَﻪَ ﺍﻧْﺌِﺜْﻰِ ﻭَﺍﻧْﻌُﺬِﻭَﺍٌِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam
(mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan
jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa
dan pelanggaran.” (QS. Al Maidah [5] : 2)
Semoga Allah memberi taufik pada kita.
Shalawat dan salam kepada Nabi kita
Muhammad, pengikut dan sahabatnya.
Ketua Al Lajnah Ad Da’imah : Syaikh Abdul
Aziz bin Abdillah bin Baz
Saatnya Menarik Kesimpulan
Dari penjelasan di atas, kita dapat menarik
beberapa kesimpulan :
Pertama , Kita –kaum muslimin- diharamkan
menghadiri perayaan orang kafir termasuk di
dalamnya adalah perayaan Natal. Bahkan
mengenai hal ini telah dinyatakan haram oleh
Majelis Ulama Indonesia sebagaimana dapat
dilihat dalam fatwa MUI yang dikeluarkan
pada tanggal 7 Maret 1981.
Kedua , Kaum muslimin juga diharamkan
mengucapkan ‘selamat natal’ kepada orang
Nashrani dan ini berdasarkan
ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin
sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul
Qoyyim.
Jadi, cukup ijma’ kaum muslimin ini sebagai
dalil terlarangnya hal ini. Yang menyelisihi
ijma’ ini akan mendapat ancaman yang keras
sebagaimana firman Allah Ta’ala,
ﻭَﻱَ ﻳُﺸَﺎﻗِﻖِ ﺍﻧﺮَّﺳُﻯﻞَ ﻱِ ﺑَﻌِﺬِ ﻳَﺎ ﺗَﺒَﻲَّ ﻥَ ﺍﻧْﻬُﺬَﻱ ﻭَﻳَﺘَّﺒِﻊِ ﻏَﻴِﺮَ ﺳَﺒِﻴﻢِ ﺍﻥْ ﺅًُِﻱِ
ﻳُِﻦَ ﻯَُﻦِّ ﻳَﺎ ﺗَﻯَﻦَّ ﻭَ ﺻَُِﻪِ ﺟَﻪَ ﻯََُّ ﻭَﺳَﺎﺀَﺕِ
ﻳَﺼِﻴﺮّﺍ
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul
sesudah jelas kebenaran baginya, dan
mengikuti jalan yang bukan jalan orang-
orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa
terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu
dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam,
dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat
kembali.”(QS. An Nisa’ [4] : 115). Jalan
orang-orang mukmin inilah
ijma’ (kesepakatan) mereka.
Oleh karena itu, yang mengatakan bahwa Al
Qur’an dan Hadits tidak melarang
mengucapkan selamat hari raya pada orang
kafir, maka ini pendapat yang keliru. Karena
ijma’ kaum muslimin menunjukkan
terlarangnya hal ini. Dan ijma’ adalah sumber
hukum Islam, sama dengan Al Qur’an dan Al
Hadits. Ijma’ juga wajib diikuti sebagaimana
disebutkan dalam surat An Nisa ayat 115 di
atas karena adanya ancaman kesesatan jika
menyelisihinya.
Ketiga , jika diberi ucapan selamat natal, tidak
perlu kita jawab (balas) karena itu bukanlah
hari raya kita dan hari raya mereka sama
sekali tidak diridhoi oleh Allah Ta’ala.
Keempat, tidak diperbolehkan seorang muslim
pergi ke tempat seorang pun dari orang-orang
kafir untuk mengucapkan selamat hari raya.
Kelima , membantu orang Nashrani dalam
merayakan Natal juga tidak diperbolehkan
karena ini termasuk tolong menolong dalam
berbuat dosa.
Keenam , diharamkan bagi kaum muslimin
menyerupai orang kafir dengan mengadakan
pesta natal, atau saling tukar kado (hadiah),
atau membagi-bagikan permen atau makanan
dalam rangka mengikuti orang kafir pada hari
tersebut.
Demikianlah beberapa fatwa ulama mengenai
hal ini. Semoga kaum muslimin diberi taufiko
oleh Allah untuk menghindari hal-hal yang
terlarang ini. Semoga Allah selalu menunjuki
kita ke jalan yang lurus dan menghindarkan
kita dari berbagai penyimpangan. Hanya
Allah-lah yang dapat memberi taufik.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush
sholihat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina
Muhammad wa ‘alihi wa shohbihi wa sallam.
Sumber: ( Rumaysho.com )

No comments:

Post a Comment