Thursday, 3 December 2015

FAKTOR PSIKOLOGIS YANG MENYEBABKAN MALFUNGSI FISIOLOGIS




1.Sistem muskuloskeletal, misalnya: sakit kepala tegang (tension headache), nyeri punggung psikogenik.
2.Sistem napas, misalnya: sindrom hiperventilasi psikogenik, batuk psikogenik, asma bronkial psikogenik.

3.Sistem kardiovaskuler, misalnya: nyeri kepala vaskuler (migren), takhikardia  psikogenik.
4.Sistem gastrointestinal, misalnya: muntah siklik psikogenik, obstipasi siklik psi kogenik.
5.Sistem kemih kelamin, misalnya: sindrom ketegangan pra haid dan dismenore (haid psikogenik), poliuri psikogenik, vaginismus fungsional, enuresis, frigiditas dan impotensi psikogenik.
6.Sistem endokrin, misalnya: hipo- atau hipertiroidisme, hipo- atau hiperinsu- linisme, hipo- atau hiperpituitarisme.
7.Sistem pancaindera, misalnya: vertigo psikogenik
Faktor psikologik yang menyebabkan kerusakan anatomik/histologik:
1.Sistem muskuloskeletal, misalnya: artritis reumatoid psikogenik.
2.Sistem napas, misalnya: asma bronkhial psikogenik.
3.Sistem kardiovaskuler, misalnya: penyakit jantung koroner, payah jantung psiko­genik.
4.Sistem kulit, misalnya: akne vulgaris psikogenik, alopesia aerata psikogenik, psoriasis, dermatitis psikogenik.
5.Sistem gastrointestinalis, misalnya: kardiospasme psikogenik, tukak peptik psi­kogenik, kolitis ulseratif psikogenik.
6.Sistem kemih kelamin, misalnya: uretritis tidak khas.
7.Sistem endokrin, misalnya: tirotoksikosis (hipertiroidisme), hipotiroidisme, dia­betes mellitus, hipoglikemia.
8.Lainnya, misalnya: obesitas psikogenik, gangguan immunologik (herpes sim­pleks), penyakit autoimmun (penyakit Hashimoto dan Grave).
CARA PEMERIKSAAN                             1.Anamnesis:
Untuk  mencari gejala somatik        
Latar belakang psikologik dan hubungannya dengan timbulnya gejala                              soma­tik tersebut di atas
2.Pemeriksaan psikiatrik dan evaluasi psikologi
3.Pemeriksaan fisik                          
Mencari sistem organ  mana yang terkena.
PENATALAKSANAAN
Dalam penatalaksanaan perlu pendekatan multidisipliner dengan perhatian lebih diutamakan pada individu seutuhnya daripada keluhan somatiknya.
Tujuan pendekatan multidisipliner adalah:
1.Membuat pasien lebih matang dalam penyesuaian diri secara sosial.
2.Meningkatkan kapasitas kerja dan aktivitas fisiknya.
3.Mencegah progresivitas keluhan somatiknya.
4. Mengurangi keuntungan sekunder (secondary gain) dari keluhan somatiknya.
Metoda terapi:
-Somatoterapi : merupakan terapi simptomatik, yaitu pemberian obat-obatan sesuai dengan keluhannya.
-Psikoterapi dengan tujuan agar pasien menyadari problem emosional yang mendasari keluhan somatiknya
Psikoterapi melewati 3 fase, yaitu:
1.Fase pemeriksaan dan pemberian keterangan:
Terapis dan pasien sama-sama berusaha dan saling membantu.
2.Fase pendidikan:
Terapis yang lebih banyak aktif berbicara, menjelaskan hubungan antara gejala-gejala yang timbul dengan stres yang melatarbelakangi gejala-gejala tersebut.
3.Fase keinsyafan (insight):
Pasien yang lebih banyak aktif berbicara. 

No comments:

Post a Comment