Wednesday, 3 December 2014

Fakta Ilmiah Tentang Kisah Ramayana


Ternyata sudah banyak peradaban modern
sebelum masa kita sekarang. Masa sebelum
4000 SM yang dianggap sebagai masa pra
sejarah dengan peradaban Sumeria sebagai
peradaban tertua didunia ternyata dianggap
salah. Adanya Teori Atlantis, Lemuria, kini
makin diperkuat dengan bukti tertulis seperti
percakapan Plato mengenai dialog Solon dan
pendeta Mesir kuno mengenai Atlantis.
Naskah kuno Hinduisme mengenai Ramayana
dan dinastinya, Bharatayudha dan kerajaan
Hastinapura, bahkan bukti arkeologi mengenai
peradaban Monhenjo-Daroo yang berhasil
ditemukan di Pakistan utara, Easter Island dan
Pyramid Mesir maupun Amerika Selatan
sedikitnya juga telah menunjukkan bahwa
memang telah ada peradaban modern di masa
ribuan atau bahkan jutaan tahun sebelum era
Masehi.
Dinasti Rama
Dinasti Rama diperkirakan berkuasa di bagian
Utara India-Pakistan-Tibet hingga Asia
Tengah pada tahun 30.000 SM hingga 15.000
SM. Beberapa naskah Wedha dan Jain yang
antara lain mengenai Ramayana dan
Mahabharata ternyata memuat bukti historis
maupun gambaran teknologi dari Dinasti
Rama yang diyakini pernah mengalami zaman
keemasan dengan tujuh kota utamanya "Seven
Rishi City" yang salah satunya adalah
Mohenjo Daroo (Pakistan Utara).
Beberapa kemajuan peradaban masa lalu:
1. Atlantis dan Dinasti Rama pernah
mengalami masa keemasan (Golden Age)
pada saat yang bersamaan antara
30.000-15.000 SM.
2. Keduanya sudah menguasai teknologi
nuklir.
3. Keduanya memiliki teknologi dirgantara
dan aeronautika yang canggih hingga
memiliki pesawat berkemampuan dan
berbentuk seperti UFO (berdasarkan beberapa
catatan) yang disebut Vimana (Rama) dan
Valakri (Atlantis).
4. Penduduk Atlantis memiliki sifat agresif
dan dipimpin oleh para pendeta (enlighten
priests), sesuai naskah Plato.
5. Dinasti Rama memiliki tujuh kota besar
(Seven Rishsi City) dengan ibukota Ayodhya
dimana salah satu kota yang berhasil
ditemukan adalah Mohenjo-Daroo.
6. Persaingan dari kedua peradaban tersebut
mencapai puncaknya dengan perang yang
menggunakan senjata nuklir.
7. Para ahli menemukan bahwa pada puing-
puing maupun sisa-sisa tengkorak manusia
yang ditemukan di Mohenjo-Daroo
mengandung residu radio-aktif yang hanya
bisa dihasilkan lewat ledakan Thermonuklir
skala besar.
8. Dalam sebuah seloka mengenai
Mahabharata, diceritakan dengan kiasan
sebuah senjata penghancur massal yang
akibatnya mirip sekali dengan senjata nuklir
masa kini.
9. Beberapa Seloka dalam kitab Wedha dan
Jain secara eksplisit dan lengkap
menggambarkan bentuk dari "wahana
terbang" yang disebut "Vimana" yang ciri-
cirinya mirip piring terbang masa kini.
10. Sebagian besar bukti tertulis justru berada
di India dalam bentuk naskah sastra,
sedangkan bukti fisik justru berada di belahan
dunia barat yaitu Piramid di Mesir dan
Amerika Selatan.
Singkatnya segala penyelidikan di atas
berusaha menyatakan bahwa umat manusia
pernah maju dalam peradaban Atlantis dan
Rama. Bahkan jauh sebelum 4000 SM
manusia pernah memasuki abad antariksa
dan teknologi nuklir. Akan tetapi zaman
keemasan tersebut berakhir akibat perang
nuklir yang dahsyat pula. Hingga pada masa
sesudahnya, manusia sempat kembali ke
zaman primitif yang kemudian berakhir
dengan munculnya peradaban Sumeria sekitar
4000 SM atau 6000 tahun yang lalu.
Penemuan jembatan Ramayana (Sri Rama
Bridge)
Semua kisah tentang perjalanan hidup
manusia kera dan Rama, terangkum dalam
kitab suci Ramayana yang ditulis oleh
pendeta Walmiki untuk mengenang kisah
kepahlawanan Hanuman dan perjuangan cinta
Sri Rama terhadap istrinya Dewi Sinta. Di
dalam cerita Ramayana tersebutlah kisah
bahwa ia hendak menyelamatkan istrinya,
Dewi Sinta yang diculik oleh Rahwana dan
dibawa ke negeri Alengka. Saat Rama dan
adiknya Lasmana beserta para tentaranya
bersiap-siap menuju Alengka, mereka harus
berhenti karena terhalang oleh luasnya laut
yang membentang didepan.
Sri Rama dan pemimpin wanara lainnya
akhirnya harus berunding untuk memikirkan
cara menyeberang ke Alengka mengingat tidak
semua prajuritnya bisa terbang. Keputusannya
Rama menggelar suatu upacara di tepi laut
untuk memohon bantuan dari Dewa Baruna.
Selama tiga hari Rama berdoâ??a namun
tidak mendapat jawaban, akhirnya
kesabarannya habis, kemudian ia mengambil
busur dan panahnya untuk mengeringkan
lautan.
Melihat laut akan binasa, Dewa Baruna
datang menemui Rama dan meminta maaf
atas kesalahannya. Dewa Baruna
menyarankan agar para wanara membuat
jembatan besar tanpa perlu mengeringkan
atau mengurangi kedalaman lautan. Nila pun
ditunjuk sebagai arsitek jembatan tersebut.
Dibantu panglima kera Hanuman dan jutaan
pasukan kera dari Raja Sugriwa, Sri Rama
mengurug (menimbun) lautan dengan batu
karang dan membangun jembatan selama
bertahun tahun. Jembatan ini dibangun
dengan menggunakan batu dan pasir apung,
namun para Dewa mengatakan dikemudian
hari batuan tersebut akan menancap ke dasar
laut, yang akhirnya menciptakan rangkaian
batu karang. Setelah bekerja dengan giat,
jembatan tersebut terselesaikan dalam waktu
yang relatif singkat dan diberi nama â??
Situbandaâ??. (Apa hubungan dengan wilayah
di Jawa Timur yang bernama Situbondo?).
Kemudian berkat jembatan inilah pasukan
Rama akhirnya berhasil menyeberang dan
menaklukan kerajaan Alengka serta merebut
Dewi Sinta dari Rahwana.
Begitulah singkat cerita tentang Kisah
Ramayana, benar atau tidaknya masih dalam
tahap penyelidikan. Namun belakang ini
banyak bukti-bukti yang mengarah pada
pembenaran akan kisah tersebut, diantaranya
telah ditemukannya sebuah jembatan yang
sangat unik di selat Palk antara India dan
Srilangka. Jembatan misterius ini telah
menghubungkan dua buah daratan yaitu
antara Manand Island (Srilanka) dan Pamban
Island (India). Sehingga ini pun dianggap
sebagai bukti adanya jebatan dalam kisah
Ramayana tersebut.
Jembatan yang satu ini memang unik dan
sangat jauh berbeda dengan jembatan-
jembatan lain di dunia. Keberadaannya tidak
di darat melainkan di bawah air laut sekitar
1.5 meter. Keberadaan jembatan ini baru
akan nyata bila air laut sedang surut,
khususnya tatkala bulan sedang tidak
bersinar. Saat bulan tidak bersinar air laut
akan surut dan jembatan ini bisa dilihat
dengan mata telanjang. Tapi bila sedang
bulan purnama penuh, air akan meninggi dan
gelombang laut jadi besar sehingga jembatan
sulit dilihat. Sehingga sering disebut sebagai
"Mysterious Places in the Worlds."
Konstruksinya akan tampak lebih nyata bila
kita lihat dari udara. Jembatan yang
panjangnya 18 mil atau sekitar 30 km dengan
lebar hampir 100 m ini tampak meliuk seperti
seekor ular.
Sekarang dari segi arkeologis, para peneliti
mencari tahu siapa sebenarnya arsitek yang
membangun jembatan tersebut. Sebab dengan
teknologi sekarang, pembangunan itu masih
belum terjangkau oleh akal manusia. Tak
terbayangkan bagaimana orang-orang dahulu
membangun sebuah jembatan yang kokoh
sepanjang 18 mil atau 30 km di atas
permukaan laut yang cukup ganas ombaknya.
Sebagaimana gambaran pembangunannya
yang terekam dalam kitab suci umat hindu
ribuan tahun lalu. Batuan karang yang rata-
rata beratnya antara 10-20 ton itu tersusun
rapi dan cukup kokoh hingga terbukti bisa
menahan gelombang laut yang ganas selama
berabad-abad.
Dalam kitabnya, Walmiki mengungkapkan Sri
Rama membutuhkan bantuan jutaan ekor kera
untuk mengangkut batu dan mengurug lautan.
Bila melihat postur kera seperti sekarang,
agak sulit diterima akal bila mahluk itu
mampu berkolaborasi dengan manusia yang
notabene jumlahnya saat itu masih terbatas.
Bantuan pasukan kera itu datang dari
Sugriwa, raja kera yang tengah berseteru
dengan saudaranya Subali. Setelah ada
kesepakatan, Sri Rama membantu merebut
tahta Sugriwa dari Subali. Setelah berhasil,
bangsa kera membantu Rama membangun
jembatan penyebrangan dari Rameswaram
(India) ke Sri langka.
Kemudian dari kisah tersebut maka yang
menjadi bahan pertanyaan para ahli
antropologi Srilangka dan Unicef adalah,
benarkah sosok raja Sri Rama yang brilian itu
pernah lahir di muka bumi dan membuat
sebuah karya yang spektakuler? Kalau pernah
ada, dari bangsa mana dan pada masa apa
kehadirannya. Karena dalam kitab suci itu
diungkapkan, bahwa Rama dibantu jutaan
kera membangun jembatan penyebrangan ke
Alengka. Dari hasil penelitian lanjutan
terungkap, yang pasti Sri Rama bukan dari
ras Homo Sapiens (bangsa kera), tapi diduga
kuat dari peralihan homo Sapeinsis ke
Australiensis. Ras ini memiliki tingkat
kecerdasan yang sangat tinggi, yang mampu
membuat sebuah mahakarya dunia yang
tahan oleh hempasan waktu, dan gelombang
laut yang cukup ganas selama beribu-ribu
tahun.
Sumber: lintas-copas.blogspot.com

No comments:

Post a Comment