Selasa, 03 April 2012

Seputar Ayat 26 – 27 Ar-Rahman


Dalam penafsiran ayat 26 surah ar-Rahman “kullu man ‘alaiha fan” darimana dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan “man ‘alaiha” adalah manusia dan jin. Atau bagaimana kita ketahui bahwa jin-jin itu hidup di muka bumi? Atau seluruh manusia lainnya tidak hidup di planet lain? Di tempat lain disebutkan bahwa yang dimaksud dengan “fan” bukanlah kebinasaan mutlak, melainkan sejenis perubahan dan pergantian di alam. Dengan perantara indikasi apa makna ini dipahami demikian?
1. Terjemahan ayat 26-27 surah al-Rahman (55) adalah: “Semua yang ada (pemilik akal dan intelegen) di bumi itu akan binasa. Dan hanya Dzat Tuhan-mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.”
2. Dari keseluruhan ayat surah al-Rahman dan sebagian riwayat adalah jelas bahwa Allah Swt adalah Maharahman dan Maharahim, berada pada tataran menghitung segala nikmat yang Dia anugerahkan kepada para pemilik akal dan intelegen.
3. Redaksi “tsaqalan” pada ayat 31 surah al-Rahman dan penggunaan lafaz “man” sebagai ganti “ma” pada ayat 26 dalam surah yang sama, di samping ayat-ayat lainnya khususnya ayat “fabiayyi alaai rabbikuma tukadziban” dan ayat-ayat 14, 15, 33 dan 34 dan sebagainya adalah penentu maksud dan lawan bicara ayat-ayat ini, khususnya ayat “kullu man ‘alaihi…”; karena dalam al-Qur’an tsaqalan bermakna manusia dan jin. Dan “man” digunakan untuk pemilik akal dan pikiran.
4. Terdapat sebuah riwayat yang dinukil dari Jabir bin Abdillah dari Rasulullah Saw yang menegaskan secara eksplisit bahwa yang menjadi obyek bicara di sini adalah manusia dan jin. Rasulullah Saw bersabda kepada umat: Tatkala (kalian) membaca ayat “fabi ayyi ala Rabbikuma tukadziban,” maka para jin lebih baik menjawabnya ketimbang kalian.
5. Khususnya terkait dengan kehidupan jin di muka bumi terdapat banyak bukti dan dalil atas hal ini; seperti pelbagai penyaksian dan hubungan langsung sebagian orang, penaklukan dan penggunaan jin di bumi oleh Nabi Sulaiman As dan sebagainya. Demikian juga banyak riwayat yang menyebutkan ihwal tempat tinggal mereka pada daerah atau tempat-tempat yang kurang penduduk (manusia), pendeknya jin dan manusia merupakan makhluk bumi. Namun terkait dengan ayat yang menjadi obyek pembahasan, menunjukkan tentang ada-tiadanya pembatasan kehidupan manusia dan jin di muka bumi atau eksisten-eksisten lainnya pada planet atau langit-langit memerlukan pembahasan yang berbeda.
6. Terdapat banyak pendapat yang dilontarkan dalam menafsirkan maksud ayat ini dimana dengan membeberkan sebagian dari penafsiran itu sangat bermanfaat untuk menjawab pertanyaan ini.
7. Musnah dan binasanya secara mutlak seluruh eksisten di alam kontingen (imkan), atau kematian alam materi dan benda, atau terputusnya atau tuntasnya kehidupan dunia dan terhapusnya efek dan hukum-hukum dunia, atau binasanya secara esensial seluruh eksisten adalah pandangan-pandangan yang telah mengemuka dalam masalah ini. Kendati sesuai dengan dalil-dalil rasional (aqli) dan referensial (naqli), kematian dan kebinasaan mutlak seluruh eksisten, khususnya eksisten-eksisten non-material, merupakan sebuah perkara mustahil terjadi kebinasaan pada mereka.
8. Arti dan makna fana (binasa, berubah, hancur, punah, menyusut, lebur, dan berubahnya bentuk dan tidak lagi dapat dimanfaatkan dan sebagainya) serta  dengan merujuk pada ayat-ayat dan riwayat-riwayat, syuhud irfani, argumen-argumen rasional, semuanya merupakan dalil dan petunjuk terhadap perubahan, pembaruan (tajaddud) dan non-materialisasi (tajarrud), proses menjadi baru dan sebagainya dimana setiap detik terjadi kebinasaan dan produksi, tercipta sebuah gerakan dan kemajuan, awal dan akhir, terbit dan tenggelam dan sebagainya.
9. Fana dan binasanya segala sesuatu dan punahnya alam kontingen tidak akan terjadi kecuali dengan wujud, emanasi, kebaikan Dzat Nir-Batas, dan pengejewantahan nama “mufni, mumit, munsyi, muhyi”.
10. Ayat-ayat “yas’alu man fissamawat…kullu yaumin huwa fii sya’n” yang termaktub pada surah al-Rahman (55):, dan ayat-ayat lainnya seperti “bal hum fii lubsin min khalqin jadid” dan “tara al-jabal tahsibuha jamidatun wa hiya tamarmar al-sahab..dan lain sebagainya merupakan bukti-bukti dan penyokong kesimpulan yang disebutkan dalam pertanyaan.
Jawaban Detail:
Dalam menjawab pertanyaan ini, pertama-tama kita harus membahas terjemahan ayat-ayat 25 dan 26 surah al-Rahman dan kemudian kita akan membagi jawaban menjadi tiga bagian:
Bagian pertama, dalam bagian ini akan disodorkan bukti-bukti dan dalil-dalil yang menjelaskan arti dan maksud ayat “man ‘alaiha”, dan juga matlab-matlab terkait kehidupan jin di muka bumi.
Bagian kedua, pada bagian ini akan dijelaskan makna leksikal fana dan sebagian penafsiran dan pandangan terkait dengan ayat 26 surah al-Rahman.
Bagian ketiga, pada bagian ini, akan dikemukakan pelbagai indikasi dan bukti yang berkaitan dengan tafsir dan kesimpulan dari pertanyaan yang tersebut (pembuktian adanya pembaruan dan pergantian alam).
Allah Swt pada ayat 25-26 surah al-Rahman berfirman: “Kullu man ‘alaiah fan, wa yabqi wajhu rabbika dzuljalalil wal ikram” (Semua yang ada [pemilik akal dan intelegen yang menghuni bumi] itu akan binasa. Dan hanya wajah Tuhan-mu yang mempunyai kebesaran (jalal) dan kemuliaan (jamal) tetap kekal.” [1]
Artinya setiap mahkluk yang memiliki akal dan intelegensia yang terdapat di bumi akan binasa, sirna, hancur dan sebagainya. Meski dalam ayat ini secara eksplisit tidak menyebutkan redaksi bumi. Namun dari konteks ayat-ayat sebelumnya dapat disimpulkan bahwa kata ganti pada “alaiha” kembali ke bumi dan hal ini sejalan dengan keseluruhan ayat-ayat yang berada pada tataran penjelasan dan menghitung segala nikmat Tuhan yang dianugerahkan kepada pemilik akal dan intelegensia.[2]
Bagian pertama: maksud ayat “man ‘alaiha”
Terdapat pandangan yang beragam dari para mufassir Qur’an terkait dengan pembahasan bahwa siapa yang hidup di bumi dan siapakah orang-orang yang memiliki akal dan intelegensia. Namun dari keseluruhan ayat-ayat surah al-Rahman khususnya ayat “fabiayyi alai rabbikuma tukadziban” (Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan, [wahai bangsa jin dan manusia]?) dan ayat-ayat 14 dan 15 yang menyatakan: “Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar, dan Dia menciptakan jin dari nyala api.” Dan juga pada ayat 31: “Kami akan segera memperhitungkan kamu semua, hai manusia dan jin.” Dimana dalam ayat ini disebutkan redaksi tsaqalan (dua kelompok yang berat)yang dalam bahasa al-Qur’an, tsaqalan itu dilekatkan pada manusia dan jin.[3] Dan demikian seterusnya ayat-ayat 33, 35 dan sebagainya dengan jelas dapat disimpulkan bahwa Tuhan yang Mahapemurah dan Pengasih, bercengkerama dengan manusia dan jin dan berada pada tataran mengingatkan segala nikmat yang dianugerahkan kepada mereka. Atas alasan ini, Dia berfirman: “Kullu man ‘alaihah” tidak dengan redaksi “Kullu maa alaihah” karena nomina “man” merupakan penjelas pemilik akal dan intelgensia dan redaksi “maa” tidak dapat memikul pesan berat ini.
Di samping itu, sebuah riwayat yang dinukil oleh Jabir bin Abdillah dari Rasululllah Saw ihwal surah al-Rahman, menegaskan bahwa obyek bicara surah al-Rahman, khususnya ayat “fabi ayyi alai Rabbikum tukadziban” adalah manusia dan jin.[4]
Dengan demikian, mayoritas mufassir menegaskan bahwa maksud “man alaiha” pada ayat terkait adalah manusia dan jin.[5] Adapun berdasarkan atas dalil dan bukti apa jin hidup di muka bumi, terdapat banyak ucapan dan dasar, namun sebagai contoh beberapa di antaranya akan kami sebutkan di sini:
1. Penyaksian dan hubungan langsung banyak orang dengan jin.
2. Penaklukan jin oleh Nabi Sulaiman “Dan bala tentara Sulaiman yang berasal dari bangsa jin, manusia, dan burung berkumpul di hadapannya; alangkah banyaknya sehingga mereka harus menunggu supaya seluruh tentara itu terhimpun.” (Qs. Naml [27:]17), atau  persembahan tahta Balqis ke hadapan Nabi Sulaiman “Sulaiman berkata, “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri?” . ‘Ifrit dari golongan jin berkata, “Aku akan mendatangkan singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya.”(Qs. Naml [28]:38-39), bekerjanya sebagian jin di hadapannya, “Dan sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhan-nya.”  (Saba [34]:12), dan setan berasal dari golongan jin.[6] Mendengarkan firman Ilahi “Katakanlah (hai Muhammad), “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur’an), lalu mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur’an yang menakjubkan.” (Qs. Al-Jin [72]:1); “Dan (ingatlah) ketika Kami kirimkan serombongan jin kepadamu untuk mendengarkan Al-Qur’an. Tatkala mereka telah hadir semua, mereka berkata, “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).” Ketika pembacaan telah selesai, mereka kembali kepada kaum mereka (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata, “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur’an) telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.”  (Qs. Al-Ahqaf [46]:29-30)
3. Adanya banyak riwayat dan jelas yang menetapkan bahwa kehidupan jin di muka bumi, pada wilayah yang kurang komunitas (manusia) dan jin (dalam riwayat tersebut) dipandang sebagai penduduk bumi.
Di antaranya: riwayat yang panjang yang dinukil dari Imam Baqir As dari Amirulmukminin As terkait makhluk-makhluk yang hidup di bumi sebelum Nabi Adam As,[7] yang secara tegas memandang bahwa jin dan nisnas (sebangsa kera) merupakan penduduk bumi.[8]
Dan riwayat-riwayat yang lain yang secara tegas dan jelas menyatakan bahwa tempat tinggal jin pada wilayah khusus dimana kami disini tidak akan menyebutkan riwayat-riwayat tersebut. Karena itu kami mempersilahkan bagi Anda yang tertarik untuk merujuk kepada kitab-kitab terkait masalah jin.[9]
Kiranya perlu disebutkan di sini bahwa tidak terdapat ayat yang menafikan atau menetapkan tentang adanya kehidupan manusia atau maujud-maujud lainnya di planet lain;[10] Kendati kebinasaan dan kehancuran, akan dialami oleh seluruh eksisten dan maujud di alam kontingen (dunia).

Bagian kedua: Makna ayat

“Fana” secara leksikal disebutkan dalam beragam makna, di antaranya: sirna, tiada, punah, hancur, tuntas, terputus, akhir, kematian, lebur, berlalu, berubah, berada dalam bentuk yang lain, keluarnya sesuatu dari sifatnya yang tidak dapat lagi digunakan dan sebagainya.[11]
Dalam kitab-kitab tafsir disebutkan penafsiran yang beragam terkait dengan maksud ayat “kulla man alaihi fan” dimana untuk membahas dan mengkritisi beberapa pandangan tersebut memerlukan waktu dan ruang yang lain. Namun untuk menjawab bagian terakhir dari pertanyaan yang diajukan kami akan menyampaikan beberapa dari penafsiran tersebut.
A. Ayat yang menyampaikan tentang punah dan binasanya secara mutlak seluruh eksisten (yang hidup atau yang mati) khususnya manusia dan jin, baik yang berada di muka bumi atau yang berada di planet lain demikian juga di tujuh petala langit. Dimana hal ini tidak menunjukkan adanya pembatasan kehidupan di planet bumi. Terdapat banyak bukti Qur’ani dan riwayat terkait masalah ini. Seperti ayat-ayat, ““Setiap jiwa akan merasakan kematian.”[12] “Dia-lah Yang Maha Awal dan Yang Maha Akhir”,[13] “Segala sesuatu di muka bumi (kini dan akan datang) akan binasa,”[14] “Dan Dia-lah yang memulai penciptaan, kemudian mengembalikannya,”[15] “Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengembalikannya.”[16]
Dan riwayat-riwayat seperti: Dinukil dari Ali As: “Sesungguhnya beliau ditanya tentang mayit yang rusak jasadnya? Beliau bersabda: Iya, sehingga tidak tersisa daging dan tulang kecuali lempung yang darinya ia diciptakan. Sesungguhnya lempung ini tidak akan rusak melainkan tetap dalam liang kubur.”
Marhum Thabarsi dalam Ihtijâjâj meriwayatkan sebuah pertanyaan yang diajukan oleh seorang zindik kepada Imam Shadiq: “Imam dalam menjawab pertanyaan Zindiq yang bertanya: Apakah ruh setelah keluarnya dari jasad akan binasa atau akan kekal, beliau bersabda: “Melainkan ruh akan tetap kekal hingga hari di tiupnya sangkakala kiamat setelah itu akan batil dan binasa.”[17]
Imam Ali As bersabda: “Dia akan menghancurkan bumi setelah keberadaannya sehingga semua yang berada di atasnya akan menjadi tak-ada. Tetapi lenyapnya dunia setelah penciptaannya tidaklah lebih aneh dari pembentukan dan pengadaannya yang pertama.”[18]
B. Yang dimaksud fana pada ayat terkait (dan kebinasaan pada ayat 88 surah Qashash yang menyebutkan: “Segala sesuatunya binasa kecuali wajah Tuhan.” Kematian (badan) dan keluar dari kegunaannya.[19] Kendati ayat-ayat ini tidak termasuk ruh-ruh dan wujud-wujud non-material, kalau pun termasuk, maka mereka tidak termasuk dalam hukum ini (fana dan mati); karena terdapat dalil-dalil rasional dan referensial yang menjelaskan tentang kekalnya ruh-ruh dan segala sesuatu di sisi Tuhan.[20] Di samping itu, “maujud” (eksisten, ada) sekali-kali tidak akan pernah “ma’dum” (non-eksisten, tiada) yang telah ditetapkan oleh argumen-argumen filosofis.
C. Ayat yang menjelaskan terputus, tuntasnya kehidupan dunia dan terangkatnya efek dan hukum dimana dengan fana dan binasanya penghuninya pemilik intelegensia adalah akibat dari kefanaan ini. Demikian juga, tenggelamnya mentari duniawi dan terbitnya fajar ukhrawi dan berpindahnya dunia menuju akhirat. Redaksi “fana” secara lahir menandaskan  hari esok, artinya akhir usia dunia dan apa yang ada di dalamnya dan akan muncul di hari esok.[21]
Dengan demikian, hakikat fana ini adalah perpindahan dari dunia kepada akhirat dan kembali kepada Tuhan, sebagaimana pada kebanyakan ayat ditafsirkan demikian.[22]
D. Pada ayat terkait, “fana” digunakan dalam bentuk derivatif (musytaq) “fanin” dan tidak bermakna sesuatu yang akan binasa di kemudian hari. Karena pasti penyebutan lafaz derivat (musytaq) “fanin” atas segala eksisten yang nantinya akan binasa adalah penyebutan majazi (figuratif). Dan  yang menjadi perbedaan dan obrolan para ilmuan ilmu Ushul, khususnya penggunaan derivat (musytaq) pada hal-hal yang dimasa lalu tertutupi dengan satu sifat dan permulaan dan kini sifat tersebut terlepas darinya, misalnya seseorang pada masa lalu adalah seorang dokter dan kini ia telah melupakan seluruh ilmunya dan tidak lagi mengambil manfaat dari ilmu kedokteran. Apakah orang seperti ini secara hakiki dapat disebut sebagai dokter? Namun kepada orang yang di suatu hari menjadi dokter, sudah barang tentu, penyebutan dokter kepada merupakan penyebutan figuratif dan tidak hakiki.[23]
Atas alasan ini, makna hakiki ayat, akan sejalan dengan makna ayat “kullu syain halik illa wajha” (Qs. Al-Qashash [28]:88) Artinya adalah “segala sesuatu di muka bumi (kini dan akan datang) akan binasa, hancur dan sirna.
Dengan kata lain, segala eksisten yang ada di bumi yang memiliki intelegensia dan akal seperti wujud kontingen (mumkin al-wujud) dan membutuhkan Sang Pencipta dan Sang Penganugerah wujud, secara esensial, akan binasa, sirna dan kematian serta kefanaan akan meliputi wujud mereka.[24] Kebutuhan dan kefakiran ini tidak akan pernah terlepas dari wujudnya. Dari angle ini, Mahmud Syabistari dengan mengambil inspirasi dari hadis “al-faqru sawad al-wujud fii al-darrain”[25] menggubah sebuah syair:

Legamnya wajah imkan (manusia) di dua alam

Tidak akan berpisah selamanya waLllahu a’lam[26]
Namun kebinasaan dan kepunahan seperti ini, tidak terkhusus pada segala eksisten dengan intelegensia bumi (manusia dan jin) dan segala sesuatu selain wajah Tuhan pemilik keagungan (jalal) dan kemuliaan (jamal) serta wali-wali khususnya.
Sebagaimana pada banyak ayat mengabarkan tentang fana dan kebinasaan ini: “Segala sesuatu akan binasa kecuali wajah-Nya” (Qs. Al-Qashash [28]:88) Atau “Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah.” (Qs. Al-Zumar [39]:68)
Lantaran engkau tidak fana di sisi-Ku
Datanglah keutamaan (harta, ilmu) yang membuatmu binasa
Segala sesuatunya binasa kecuali wajah-Nya
Lantaran tidak ada ketiadaan pada wajah-Nya janganlah cari keberadaan
Sesiapa yang berada di hadapan Kami akan fana
Segala sesuatu akan binasa kecuali wajah-Nya[27]
Kiranya penting menyebutkan poin ini bahwa pelbagai penafsiran dan kesimpulan yang beragam lainnya dengan pendekatan yang beraneka macam tentang ayat terkait dimana di sini kami tidak akan menyebutkannya mengingat terbatasnya ruang dan waktu.[28]

Bagian ketiga: dalil-dalil dan bukti-bukti

Dengan memperhatikan beberapa matlab sebelumnya dapat dikatakan bahwa yang dimaksud dengan fana bukanlah fana mutlak dan ayat al-Qur’an menjelaskan ihwal awal dan akhir gerakan dan arah kesempurnaan seluruh eksistensi, khususnya manusia. Ayat di atas berada pada tataran menjelaskan kefanaan seluruh eksistensi terkait identitas partikularnya dan keluarnya serta mudiknya seluruh eksistensi kepada Tuhan. Kembalinya seluruh cabang kepada akar dan terbitnya mentari semesta keabadian dari tenggelamnya surya kefanaan menuju fajar keabadian, kenaikan derajat tingkatan alam materi menuju alam non-material.
Arah dan gerakan, kelahiran dan kemekaran, terbit dan sampainya, ketersingkapan dan intensifikasi, ekspresi lahir dan penampakan, kesempurnaan, kemenanjakan dan pengejewantahan hak, tidak akan dapat terwujud kecuali dengan melenyapkan segala keterkaitan dan leburnya pelbagai batasan dan ikatan, kebutuhan kecacatan terhadap kesempurnaan, kembalinya kepada fitrah asli, terlepas serta hancur dan binasanya alam materi dan sirnanya segala sesuatu di atasnya (kullu man ‘alaiha fan)[29]
Menyaksikan perhatian yang rendah (safil) kepada yang tinggi (ali), kembalinya cabang kepada akar, mudiknya bentuk kepada hakikat dan akibat kepada sebab bagi orang yang hatinya tercahayai dengan keyakinan bukan merupakan pekerjaan sulit. Mencerap perubahan dan pergantian bagian-bagian alam tidaklah pelik baginya. Mereka memahami makna “Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. (Qs. Al-Zumar [30]:68) dengan mudah.[30]
Kita dan setiap desah nafas menjadi baru di dunia
Tiada berita tentang barunya pada yang abadi
Usia sebagaimana pusaran air akan menjadi baru
Hal ini juga berlanjut demikian pada jasad[31]
Sampainya jiwa kepada tabiat dan bentuk aslinya serta perpindahan alam dunia kepada alam akhirat dan tertarik kepada Allah Swt lalu merangsek pada alam arwah, menghindar dari ruang pelbagai kegelapan, tirai-tirai jasmani, berada pada haribaan Tuhan dan memperoleh kedudukan “inddiyya” (di sisi-Nya), dan terlepasnya dari tawanan, terbebasnya dari penjara dan masuknya pada dunia cahaya, adalah pergantian dan perubahan esensial (gerakan substansial secara esensial) dimana Allah Swt, memberikan ganjaran kepada para hamba-Nya dan meletakkan setingkat dari ganjaran tersebut juga pada institusi lainnya eksisten tabiat.
Tingkat materi dan gerakan, makam huduts dan kematian, akan mengalami kepunahan dan kebinasaan, pembaruan dan penuaan, karena itu Allah Swt berfirman: “Semua yang ada (pemilik akal dan intelegen) di bumi itu akan binasa. Dan hanya Dzat Tuhan-mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.”  Wajah-Nya yang merupakan cahaya dan kesucian murni, dawam, ajeg, jalâl, jamâl dan sebagainya, tetap kekal dan tidak akan pernah binasa.
Kendati rajutan hubungan dengan-Nya adalah keabadian dalam keabadian
Namun awalnya adalah kefanaan dalam kefanaan[32]
Atas sebab ini fana disebut sebagai “tawallud” (kelahiran) dan kelahiran dengan kematian dan kefanaan yang terwujudkan pada tingkatan sebelumnya. Dan apabila seseorang tidak mencicipi madu ini, maka seharusnya jiwa didedikasikan kepada ucapan para nabi dan wali Allah dan membenarkan ucapan mereka. Meski ia adalah seorang penyingkap al-Qur’an, penyaksi mentari irfan dan peneliti dengan burhan.
“Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengembalikannya.” (Qs. Al-Anbiya [21]:104) dan “Apakah Kami telah letih dengan penciptaan yang pertama (sehingga Kami sudah tidak mampu lagi untuk menciptakan hari kebangkitan)? Sebenarnya mereka berada dalam keadaan ragu-ragu tentang penciptaan yang baru.” (Qs. Qaf [50]:15) dan “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan seperti jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat tiap-tiap sesuatu dengan kokoh.” (Qs. Naml [27]:88) dan Tuhan merupakan tujuan seluruh gerakan dan perubahan ini (terlepasnya)[33] satu tingkatan untuk mendapatkan tingkatan yang lebih tinggi.[34]
Aku mati dari mineral dan menjadi tumbuhan
Aku mati dari tumbuhan kemudian menjadi hewan
Aku mati dari hewan kemudian menjadi manusia
Lalu mengapa aku takut apabila aku mati beringsut
Aku berlalu sebagai manusia
Membawa empat sayap dan bulu bak malaikat
Setelah itu, berkoar lebih tinggi dari malaikat
Mengapa engkau tidak dapat membayangkan
Aku akan menjadi seperti itu
Aku berkata Inna liLlahi rajiun.[35]
Dengan kata lain, permulaan manusia dan bahan material asli kemanusiaannya pada pelbagai tingkatan penciptaan, berasal dari mineral kemudian tumbuhan. Apabila gerakannya ini berhenti pada tingkatan tumbuhan maka ia tidak akan mencapai kesempurnaan tumbuhan demikian juga apabila ia tidak berhenti pada tingkatan tumbuhan maka ia akan mencapai tingkatan hewan dan tidak berhenti pada tingkatan hewan maka ia akan mencapai tingkatan manusia.
Pada diri manusia juga terdapat kedudukan dan makam yang tak-terbilang. Dan ketika manusia tidak berhenti pada setiap tingkatan maka ia akan memperoleh makam dan kedudukan yang lebih tinggi. Menjauh dari segala kekurangannya dan melangkah menuju puncak kesempurnaan. Dan kematian pada tingkatan kekurangan tidak akan berkurang malah semakin bertambah.
Maksudnya adalah bahwa apabila setiap cela dan keterbatasan tidak sirna maka ia tidak akan sampai pada tingkat kesempurnaan. Lantaran apabila ia memiliki kelayakan untuk menerima, yaitu kelayakan lengkap, maka ia akan menjelma sebagai pemberi kesempurnaan dan pengeluar nafs dari titik potensial kepada titik aktual. Pada kepelakuan lengkap (fâ’iliyyat tam), sikap bakhil dan menahan tidak lagi tersisa pada poin ini.
Apapun yang ditunjukkan kepadamu di dunia ini
Jika hatimu tidak berlabuh padanya segalanya menjadi milikmu
Pelbagai bijian dan nutfah apabila tidak mati pada batasannya, ia tidak akan sampai pada titik aktual. Dan apabila keduanya tidak melakukan perjalanan, keduanya tidak akan matang.
Banyaklah melakukan perjalanan wahai belia
Hingga engkau meraup kematangan.[36]
Baik perjalanan bentuknya yang merupakan kesempurnaan jasmani. Begitu pun perjalanan maknawinya yang merupakan kesempurnaan ruh.
Raga tidak terlepas dari ruh  karena ia bagian darinya
Jiwa tidak terlepas dari raga karena  keseluruhan adalah bagian darinya[37]
Dengan demikian terbitnya fajar ruh-ruh non-material universal dan mentari ruh-ruh terikat pada badan-badan particular. Yang terbenam pada tepi barat alam materi  dan beralih perhatiannya kepada Tuhan timur dan barat. Pelbagai entifikasi dan dunia benda dan materi akan sirna.
Entifikasi harus lebih tinggi dari keberadaan
Tidak tinggal pada dunia atas dan bawah
Ajal laksana galaksi akan berakhir
Seluruh keberadaan berujung kepada ketiadaan[38]
Karena itu perhatian fitri dan naluri terhadap kesempurnaan mutlak dan perjalanan serta kenaikan seluruh eksisten ke arah sumber (mabda) sesuai dengan hukum “Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia berada dalam kesibukan.” (Qs. Al-Rahman [55]:29) dan “(Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.” (Qs. Syurah [42]:53) yang berdasarkan sistem Rabbani, nampak terang bagi orang-orang yang mengenal ayat-ayat Ilahi dan nash-nash agama. Dan barangsiapa yang benderang hatinya dengan cahaya keyakinan maka ia akan menyaksikan perubahan dan pergantian yang terjadi di alam semesta. Sebagaimana Tuhan setelah menjelaskan kefanaan segala sesuatu pada surah al-Rahman (Kullu man ‘alaiha fan) dan seterusnya lalu berfirman: “Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia berada dalam kesibukan.”[39] Karena kefanaan dan kebinasaan segala sesuatu dan kefakiran seluruh eksisten serta kehancuran alam kontingen (imkan), tidak dapat terrealisir kecuali dengan Wujud, emanasi dan kebaikan (ihsan) Tuhan yang memiliki segala kebesaran dan karunia. Pada setiap hitungan detik, lahir dan mengejewantah nama “al-Mufni al-Mumit” (Pembinasa yang mematikan) dan “al-Munsyi al-Muhyi” (Pengada yang menghidupkan) pada dunia yang secara terus menerus pada kondisi bergerak. Seluruh semesta laksana air yang mengalir dan bergerak dalam aliran. Dan gambaran mentari pada air yang tetap (mengalir) ini laksana wajah Tuhan (wa yabqa wajha rabbuk).
Pada setiap detik substansi dan esensi segala sesuatu mengalami pembaruan (renewal) dan transmutasi (tabaddul). Dengan bahasa tubuh, lisan, potensi, dengan tangan membutuhkan dan mata yang penuh harap bergerak ke arah Pemilik Kemurahan dan Cinta. Menyampaikan hajat (pada seluruh dimensi) kepada-Nya. Dan melabuhkan harapan kepada Kekayaan dan Kemurahan-nya. “Hai manusia, kamulah yang memerlukan (faqir) kepada Allah; dan hanya Allah-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Qs. Fatir [35]:15)[40]
Dialah yang ada pada setiap detik, pada setiap penciptaan baru Dia berada dalam kesibukan (kullu yaum huwa fi sya’n) meski: Dia tidak disibukkan oleh kesibukan.
Penciptaan semesta keberadaan tidak hanya terjadi permulaan penciptaan dunia, melainkan setiap detik penciptaan dan permulaan. Karena itu, sebagian ulama besar Islam dan Syiah dengan mengambil inspirasi dari “kullu man ‘alaiha fan…yasalunakan man fissamawati wa al-ardh kullu yaumi huwa fii sya’n) dan melalui media syuhud (penyingkapan) Irfan dan dengan mengikuti burhan menyimpulkan demikian dan menetapkan gerakan dan transmutasi (tabaddul) substansi dan esensi segala sesuatu. Kendati pada wilayah ini banyak yang harus disampaikan namun ruang dan waktu tidak tersedia. Rumi, seorang arif besar, menggubah gerakan para wali Tuhan “ke arah yang tak berarah” dalam sebuah syair yang indah sebagai berikut:
Sesiapa yang melangkah ke arah yang tak-berarah
Para budiman itu menoleh ke arah yang tak-berarah
Setiap merpati yang melesak pada mazhab
Merpati ini berpihak pada yang tak-berpihak
Kita bukan unggas udara juga bukan piaraan
Bijian kita adalah biji tanpa biji
Sedemikian luas kehidupan (akhirat) kita
Sehingga terkoyak kain (jasad) pada pundak (dunia) kita[41]
Catatan Kaki:

[1] Allamah Thabathabai, Tafsir al-Mizân, jil. 19, hal. 100; Murtadha Muthahhari, Âsynâi ba Qur’ân, tafsir surah al-Rahman, hal. 80; Abdullah Jawadi Amuli, Tafsir Maudhu’i Qur’ân Karim, Ma’âd dar Qur’ân, , jil. 4, hal. 193. Abdullah Jawadi Amuli,    Tahrir Tamhid al-Qawâid, hal. 778; Maula Nazharali Thaliqani,  Kâsyif al-Asrâr, jil. 1, hal. 335; Terjemahan al-Qur’an (terjemahan Muhammad Mahdi Fuladun, Tafsir Nemune..)
[2] Allamah Thabathai, Op Cit, jil. 19, hal. 100; Thabarsi, Majmâ’ al-Bayan, jil. 9, hal. 305; Faidh Kasyani, Tafsir Shâfi, jil. 2, hal. 641; Tafsir Qummi; Tafsir Nemune.. 
[3] Murtadha Muthahhari, Op Cit, hal. 4. 
[4] Allamah Thabathabai, Op Cit, jil. 19, hal. 103; Faidh Kasyani, Tafsir Shâfi, jil. 2, hal. 640; Majlisi, Bihâr al-Anwâr, jil. 18, hal. 78; jil. 63 hal. 117. 
[5] Lihat, Tafsir al-Mizân, Shâfi, Majmâ’ al-Bayan, Nemune.
[6] Lihat, Indeks: Setan, malaikat atau jin. Kemampuan setan dan jin
[7] Bihâr al-Anwâr, jil. 57, hal 324. 
[8] Namun sebagian riwayat yang lain menjelaskan bahwa tempat kediaman setan itu di udara (bukan di langit atau bumi), silahkan lihat, Mulla Shadra, Mafâtih al-Ghaib, jil. 1, hal. 264-265.
[9] Bihâr al-Anwâr, jil. 18, hal. 76-81, 87, 91-93; Jil. 39, hal. 169, 175, 176
[10] Namun terkait apakah jin merupakan eksisten material atau non-material (non-material barzakhi dan mitsali) dimana apabila ia non-material maka ia tidak akan mendiami sebuah tempat, kendati ia menjelma dalam pelbagai bentuk dan rupa, memerlukan kajian terpisah. Mengingat pertanyaan penanya yang budiman tidak menyoroti masalah ini, karena itu kami menghindar untuk membahas masalah ini. Demikian juga pembahasan terkait dengan perginya setan ke langit, menyentuh langit, mencuri pendengaran dan lain sebagainya, pada kesempatan ini tidak menjadi obyek pembahasan kita. Kami persilahkan Anda lihat, Muhammad Taqi Misbah Yazdi, Ma’ârif Qur’ân, jil. 1-3, hal. 308-312.
[11] Silahkan lihat, kitab-kitab kamus bahasa (Maqaiis al-Lugha, Lisan al-‘Arab, al-Munjid, Qamus Qur’an, Farhang-e Jami’ Nawin dan sebagainya) kitab-kitab tafsir. 
[12] Qs. Ali Imran [2]:185; Qs. Al-Anbiya (21):35; Qs. Al-Ankabut (29):57.
[13] Qs. Al-Hadid (57):4
[14] Qs. Al-Qishash (28):88
[15] Qs. Al-Rum (30):27
[16] Qs. Al-Anbiya (21):104
[17] Abdullah Syubbar, Haq al-Yaqin, hal. 98-99; Allamah Majlisi, Haq al-Yaqin, hal. 418-419. 
[18] Nahj al-Balâgha, khutbah 186
[19] Sayid Abdullah Syubbar, Haq al-Yaqin, hal. 98.
[20] Qs. Dukhkhan [44]:93; Qs. Ali Imran [3]:169, 170 & 185; Qs. Al-Nahl [16]:96; Asfar, jil. 8, hal. 380 dan seterusnya; Asfar, jil. 9, hal. 237 dan seterusnya & 279; Mafatih al-Ghaib, jil. 2, hal. 623-640; Ma’arif Qur’an, jil. 1-3, hal. 445.
[21] Al-Mizan, jil. 19, hal. 101; Asfar, jil. 9, hal. 266, 279, dan 282.
[22] Terjemahan Persia Al-Mizan, jil. 19, hal. 168. 
[23] Abdullah Jawadi Amuli, Tafsir Mau’dhui Qur’an Karim, jil. 4, hal. 194.
[24] Al-Mizân, jil. 19, hal. 90-91; Abdullah Jawadi Amuli, Tafsir Mau’dhui Qur’an Karim, Ma’ad dar Qur’an, jil. 4, hal. 194; Hadi Sabzawari, Syarh al-Asma, hal. 207, 254, 720. 
[25] Faqr bermakna legamnya wajah di dua alam (dunia dan akhirat). Silahkah lihat, Asfar, jil. 1, hal. 69; Syarh al-Asma, hal. 207.
[26] Mahmud Syabistari, Gulsyan-e Râz, bait 126.
[27] Rumi, Matsnawi Ma’nawi, daftar-e awwal; Pembahasan ihwal ayat “Kulli syain Halik illa wajha” di luar pembahasan kita kali ini dan akan dibahas pada kesempatan mendatang.
[28] Silahkah lihat, Mulla Hadi Sabzawari, Syarh al-Asma, hal. 720, 364, 296, 253, 241; Abdurazaq Kasyani, Syarh Manazil al-Sairin,  hal. 410, 574, 580; Allamah Thabathabai, al-Risâlah al-Tauhidiyah, hal. 129; Abdullah Jawadi Amuli, Tahrir Tamhid al-Qawaid, hal. 374, 770, 778; Izzuddin Mahmud Kasyani, Misbah al-Hidâyah wa Miftah al-Kifâyah, hal. 426; Khaja Nasiruddin Thusi, Ausaf al-Asyraf, hal. 99; Abdullah Jawadi Amuli, Marâhil Akhlâq, hal. 401-412; Mulla Shadra, jil. 9, hal. 266,277, 279 dan 280; Muqaddimah Qaishari bar Fushus al-Hikam, fushul 9 dan 15.
[29] Mulla Shadra, Asfar, jil. 9, hal. 266-281. Muqaddimah Qaishari bar Fushus al-Hikam, fushul 9 dan 11. 
[30] Mullah Shadra, Syawâhid al-Rububiyah, jil. 1, hal. 298-299.
[31] Rumi, Matsnawi Ma’nawi. 
[32] Ibid. 
[33] Kendati redaksi terlepasnya di sini bukan merupakan redaksi yang tepat dan benar. Karena, sesuai dengan gerakan substansial (harakat al-jauhari), tiada satu pun eksisten yang akan kehilangan sesuatu dan memiliki seluruh kesempurnaan tingkatan sebelumnya.
[34] Mulla Shadra, Asfar, jil. 3, hal. 110 dan seterusnya; jil. 9, hal. 266, 279, 280; Mulla Shadra, Mafâtih al-Ghaib, jil. 2, hal. 713; Mulla Shadra, Syawâhid al-Rububiyah, jil. 1, hal. 298-299.
[35] Rumi, Matsnawi Ma’nawi. 
[36] Sa’di Syirazi, Gulistan. 
[37] Hasan Zadeh Amuli, Ma’rifat Nafs, jil. 2, hal. 319-320.
[38] Rumi, Matsnawi Ma’nawi.
[39] Mulla Hadi Sabzawari, Syarh Asma, hal. 260-261; Mulla Shadra, Asfar, jil. 3, hal. 108-113.
[40] Allamah Thabathabai, al-Mizân, jil. 19, hal. 102. 
[41] Rumi, Matsnawi Ma’nawi, Daftar-e Panjum, bait-bait 350-353

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar