Tuesday, 6 March 2012

Mistik dan Khurafat, Perdukunan - Misteri Paranormal - , Mengundi Nasib, Sihir - Masalah Kepercayaan dan Tradisi

Kepercayaan adl landasan pokok bagi masyarakat Islam. Tauhid inti daripada kepercayaan tersebut dan jiwa daripada Islam secara keseluruhannya. Oleh krn itu melindungi kepercayaan dan tauhid adl pertama-tamayang dilakukan oleh Islam dalam perundang-undangan maupun da’wahnya. Begitu juga memberantas kepercayaan jahiliah yg dikumandangkan oleh polytheisme yg sesat itu suatu perintah yanq harus dikerjakan demi membersihkan masyarakat Islam dari noda-noda syirik dan sisa-sisa kesesatan.
Nilai Sunatullah dalam Alam Semesta Pertama kali aqidah yg ditanamkan Islam dalam jiwa pemeluknya yaitu bahwa alam semesta yg didiami manusia di permukaan bumi dan di bawah kolong langit tidak berjalan tanpa aturan dan tanpa bimbingan. dan tidak juga berjalan mengikuti kehendak hawa nafsu seseorang. Sebab hawa nafsu manusia krn kebutaan dan kesesatannya selalu bertentangan.Firman Allah SWT yg artinya “Andaikata kebenaran itu mengikuti hawa nafsu mereka niscaya akan rusaklah langit dan bumi serta seluruh makhluk yg ada di dalamnya.” Namun perlu dimaklumi bahwa alam ini dikendalikan dgn undang-undang dan hukum yg tetap tidak pernah berubah dan berganti sebagaimana telah dinyatakan oleh Al-Qur’an dalam beberapa ayat antara lain sebagai berikut “Kamu tidak akan menjumpai sunnatullah itu berganti.” Kaum muslimin telah belajardari kitabullah dan sunnah Rasul supaya menjunjung tinggi sunnatullah yg berbentuk alam semesta ini dan mencari musabab yg diperoleh dari sebab-sebab yg telah diikatnya oleh Allah serta supaya mereka menolak apa yg dikatakan sebab yg sekedar dugaan semata yg biasa dilakukan oleh para biksu ahli-ahli khurafat dan pedagang agama. Memberantas Mistik dan Khurafat Nabi Muhammad SAW datang dan dijumpainya di tengah-tengah masyarakat ada sekelompok manusia tukang dusta yg disebut dukun dan arraf . Mereka mengaku dapat mengetahui perkara-perkara ghaib baik utk masa yg telah lalu maupun yg akan datang dgn jalan mengadakan hubungan dgn jin dan sebagainya.Justru itu Rasulullah SAW kemudian memproklamirkan perang dgn kedustaan yg tidak berlandaskan ilmu petunjuk maupun dalil syara. Rasulullah SAW membacakan kepada mereka wahyu Allah yg artinya “Katakanlah! Tidak ada yg dapat mengetahui perkara ghaib di langit dan di bumi melainkan Allah semesta.” Bukan Malaikat bukan jin dan bukan manusia yg mengetahui perkara-perkara ghaib. Rasulullah SAW juga menegaskan tentang dirinya dgn perintah Allah SWT sebagai berikut “Kalau saya dapat mengetahui perkara ghaib niscaya saya dapat memperoleh kekayaan yg banyak dan saya tidak akan ditimpa suatu musibah tidak lain saya hanyalah seorang yg membawa khabar duka dan membawa khabar gembira utk kaum yg mau beriman.” Allah memberitakan tentang jinnya Nabi Sulaiman sebagai berikut “Sungguh andaikata mereka itu dapat mengetahui perkara ghaib niscaya mereka tidak kekal dalam siksaan yanghina.” Oleh krn itu barangsiapa mengaku dapat mengetahui perkara ghaib yg sebenarnya berarti dia mendustakan Allah mendustakan kenyataan dan mendustakan manusia banyak. Sebahagian utusan pernah datang ke tempat Nabi mereka menganggap bahwa Nabi adl salah seorang yg mengaku dapat mengetahui perkara ghaib. Kemudian mereka menyembunyikan sesuatu di tangannya dan berkata kepada Nabi Tahukah tuan apakah ini? Maka Nabi menjawab dgn tegas “Aku bukan seorang tukang tenung sebab sesungguhnya tukang tenung dan pekerjaan tenung serta seluruh tukang tenung di neraka.” Percaya Kepada Tukang Tenung Kufur Secara umum profesi “dukun” sebenarnya telah memiliki konotasi buruk sejak zaman jahiliyah sehingga tatkala orang-orang musrik jahiliyah ingin menjauhkan manusia dari Nabi mereka sebarkan isu dan mereka memberikan gelar “kahin” atau “sihir” agar orang-orang manjauh dari Nabi. Begitu pula tatkala datangnya cahaya Islam tukang sihir dan dukun menempati track record yg buruk dalam pandangan Islam. Di jaman modern ini dukun lbh dikenal dgn istilah ngetrennya “paranormal” dan keberadaan mereka mendapat tempat terhormat dalam masyarakat baik yg berprofesi sebagai tukang ramal tukang sulap pemimpin adat sampai pada dukun yg melakukan pengobatan alternatif yg menggunakan jin sebagai prewangan . Islam tidak membatasi dosa hanya kepada tukang tenung dan pendusta saja tetapi seluruh orang yg datang dan bertanya serta membenarkan mistake dan kesesatan mereka itu akan bersekutu dalam dosa. Sebagaimana sabda Nabi SAW “Barangsiapa datang ke tempat juru ramal kemudian bertanya tentang sesuatu dan membenarkan apa yg dikatakan maka sembahyangnya tidak akan diterima selama 40 hari.” “Barangsiapa datang ke tempat tukang tenung kemudian mempercayai apa yg dikatakan maka sungguh dia telah kufur terhadap wahyu yg diturunkan kepada Muhammad SAW.” Wahyu yg diturunkan kepada Nabi Muhammad itu mengatakan bahwa hanya Allahlah yg mengetahui perkara ghaib sedang Muhammad sendiri tidak mengetahuinya apalagi orang lain. Firman Allah “Katakanlah! Saya tidak berkata kepadamu bahwa saya mempunyai perbendaharaan Allah dan saya tidak dapat mengetahui perkara ghaib dan saya tidak berkata kepadaku bahwa saya adl maaikat tetapi saya hanyalah mengikuti apa yg diwahyukan kepadaku.” Para Dukun Mendapat Informasi dari Jin “Telah mengabarkan kepada kami Ali bin Abdillah dari Hisyam bin Yusuf dari Ma’mar dari Az-Zuhri dari Urwah bin Zubeir dari Aisyah r.a. berkata “Orang-orang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang para dukun” beliau bersabda “Tidak ada apa-apanya.” Para sahabat bertanya “Wahai Rasulullah mereka kadang-kadang bisa menceritakan sesuatu yg benar kepada kami. Maka Rasulullah SAW bersabda “Kalimat tersebut berasal dari kebenaran yg dicuri oleh jin kemudian dibisikkan ke telinga para walinya . Maka para dukun tersebut mencampurkan kalimat yg benar tersebut dgn seratus kedustaan.” Hadits tersebut sejara jelas membuka kedok dan rahasia “keampuhan” dukun yg banyak mengecoh orang-orang yg menyandarkan harapan keselamatan dan kebahagiaan hidupnya kepada selain Allah. Dalam hadits ini terungkap pula teka-teki di balik kemampuan dukun yg terkadang dapat menebak peristiwa yg akan terjadi. Dijelaskan pula dalam hadits ini dari mana sumber ilmu paranormal . Pelajaran yg dapat dipetik dari petunjuk Rasulullah SAW tersebut diatas adalah
    Terkadang dukun mendapat kabar yg benar dari jin. Akan tetapi kedustaan yg dibawa sebenarnya jauh lbh besar dan lbh sering Imam Bukhari meriwayatkan pula dalam bab lain dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda “Apabila Allah memutuskan perkara di langit para malaikat memukul-mukulkan sayapnya dalam keadaan tunduk mendengarkan firman Allah laksana gemerincingnya rantai besi yg terjatuh pada batu yg licin. Maka rasa takut telah hilang dari hati malaikat mereka bertanya Apa yg telah ditetapkan oleh Rabbmu? Malaikat menjawab kepada yg lain “Allah berfirman tentang kebenaran sedangkan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar. Maka di saat ada setan-setan pencuri dgn membentuk formasi demikian Sufyan memperagakan dgn menyusun telapak tangannya dan membentangkan jari-jarinya. Kemudian setan pencuri dengar itu berhasil mencuri dengar kalimat yg benar lalu ia sampaikan kepada setan di bawahnya setan yg dibawahnya tersebut mengabarkan lagi kepada yg dibawahnya lagi sampai akhirnya yg paling bawah menyampaikan hingga sampai ke lidah tukang sihir atau dukun. Bisa jadi sebelum setan sempat menyampaikan berita yg benar tersebut keburu disambar oleh bintang api. Tetapi boleh jadi pula setan berhasil menyampaikan hasil curiannya sebelum disambar api. Kemudian setan menambahi kalimat yg benar tersebut dgn seratus kedustaan. Lalu dikatakan oleh orang-orang “Bukankah ia telah mengatakan kita hari begini dan begini demikian dan demikian? Maka dukun pun dipercaya krn kalimat yg benar yg dicuri dari langit.” .
    Kebanyakan manusia cenderung lbh mudah tergoda utk menerima kebatilan. Jika sekali saja dukun terbukti benar maka jiwa akan terpengaruh utk selalu menganggap tiap apa yg dikatakan dukun adl benar sementara mereka melupakan kedustaan-kedustaan yg telah mereka perbuat Taruhlah seorang dukun meramal sebanyak seratus kali lalu jin yg bekerja untuknya berhasil mencuri dengar sekali saja hingga dia memberitahukan sesuatu yg benar. Maka hal ini mengandung ketakjuban banyak orang higga dikiranya tiap kali dia ngomong mesti benar. Padahal yg benar hanya satu persen sekian persennya “kebetulan” benar dan sekian persen lagi salah. Contoh yg sangat mudah mendekati tanggal 9-9-1999 yg lalu para dukun tukang ramal atau paranormal mensosialisasikan besar-besaran diantaranya lewat tabloid posmo bahwa hari itu adl hari kiamat. Ada pula yg meramalkan Soeharto meninggal ditembak pada tahun 2000 dan sebagainya yg ternyata jauh dari kenyataan. Namun alangkah anehnya orang-orang belum merasa jera dan kapok dikibuli oleh para penipu itu.
    Tepatnya ramalan dukun bukanlah indikasi benarnya perbuatan tersebut secara syar’iDari pintu inilah banyak orang-orang jahil tergelincir jika apa yg mereka usahakan yakni dgn mendatangi dukun jika kebetulan terwujud mereka menyangka bahwa hal itu merupakan indikasi keridlaan Allah karen tercapainya cita-citanya. Hal ini pula yg menggeincirkan banyak orang yg berdo’a dgn cara-cara bid’ah dan syirik seperti berdo’a kepada Allah melalui perantara penghuni kuburan nenek moyangnya atau orang shaleh. Ketika kebetulan tercapai mereka menyangka bahwa apa yg mereka tempuh berarti benar dan diridlaai Allah padahal bisa jadi hal itu adl istidraj Allah SWT berfirman yg artinya “Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yg kami berikan kepada mereka itu berarti Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak sesungguhnya mereka tidak sadar.” Kesimpulannya bahwa tepatnya ramalan dukun tercapainya tujuan melalui perantaraan dukun ataupun terkabulnya do’a bukanlah merupakan indikasi keridlaan Allah dan lurus di atas syare’at. Kalau seorang muslim telah mengetahui persoalan ini dari Al-Qur’an yg telah menyatakan begitu jelas kemudian dia percaya bahwa sementara manusia ada yg dapat menyingkap tabir qadar dan mengetahui seluruh rahasia tersembunyi maka berarti telah kufur terhadap wahyu diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Sisi Kelam Kehidupan Para Dukun Tidak banyak orang yg tahu bahwa di balik keampuhan dan kesaktian para dukun ternyata ada sisi kelam dalam kehidupan mereka di dunia dan juga di akherat . Bagaimana tidak utk dapat bernego dgn para jin yg menjadi mitra kerjanya itu mereka harus rela menggadaikan kebahagiaan akheratnya dgn cara menanggalkan tauhid. Bukan rahasia lagi bahwa utk memperoleh kapasitas ilmu klenik yg tinggi mereka harus melakukan bentuk kesyirikan kezaliman ataupun kemaksiatan kepada Allah. Ada yg menyembelih utk jin ada yg menjadikan para gdis sebagai tumbal ada yg harus melakukan puasa-puasa bid’ah dan bahkan ada yg harus menjadikan mushaf Al-Qur’an sebagi alas kaki tatkala buang air besar inna lillaahi wa inna ilaihi raji’uun. Mengadu Nasib dgn Azlam Dengan hikmah yg telah kami sebutkan di atas Islam mengharamkan mengadu nasib dgn azlam.Azlam disebut juga qadah yaitu semacam anak panah yg biasa dipakai oleh orang-orang Arab jahiliah sebanyak tiga buah Pertama tertulis aku diperintah Tuhan.Kedua tertulis aku dilarang Tuhan.Ketiga kosong. Kalau mereka bermaksud akan bepergian atau kawin dan sebagainya mereka pergi ke tempat berhala yg di situ ada azlam kemudian mereka mencari utk mengetahui apa yg akan diberikan kepada mereka itu dalam hal bepergian peperangan dan sebagainya dgn jalan mengundi tiga batang anak panah tersebut. Kalau yg keluar itu panah yg tertulis aku diperintah Tuhan maka dia laksanakan kehendaknya itu. Dan jika yg keluar itu anak panah yg tertulis aku dilarang Tuhan maka mereka bekukan rencananya itu. Tetapi kalau yg keluar anak panah kosong maka mereka ulangi beberapa kali sehingga keluarlah anak panah yg memerintah atau yg melarang. Yang sama dgn ini yaitu apa yg kini berlaku masyarakat kita seperti bertenung dgn menggaris-garis tanah pergi ke kubur membuka Al-Qur’an membaca piring dan sebagainya. Semua ini perbuatan mungkar yg oleh Islam diharamkan. Setelah menyebutkan beberapa macam makanan yg diharamkan kemudian Allah berfirman sebagai berikut ” kamu mengetahui nasib dgn mengundi bahwa yg demikian itu perbuatan fasik.” Dan sabda Nabi “Tidak akan mencapai derajat yg tinggi orang yg menenung atau mengetahui nasib dgn mengundi atau menggagalkan bepergiannya krn percaya kepada alamat .” Mengenai hal ini telah membudaya di kalangan masyarakat Indonesia bahwa tiap melaksanakan sesuatu yg penting maka menggunakan perhitungan hari baik dan hari nahas. Jika hari nahas maka pantang baginya melakukan sesuatu kegiatan tertentu yg penting. Dan jika hendak bepergian tetapi mendengar bacaan kitab yg menyatakan banyak halangan kemudian tidak jadi pergi ini bagian tradisi masyarakat yg masih kental. Dan tentunya tradisi semacam ini perlu ditinggalkan demi kemurnian tauhid dalam beragama. Sihir Islam menentang keras perbuatan sihir dan tukang sihir. Tentang orang yg belajar ilmu sihir Allah SWT telah berfirman “Mereka belajar suatu ilmu yg membahyakan diri mereka sendiri dan tidak bermanfaat buat mereka.” Rasulullah SAW menilai sihir sebagai salah satu dari pada dosa besar yg bisa merusak dan menghancurkan sesuatu bangsa sebelum terkena kepada pribadi seseorang dan dapat menurunkan derajat pelakunya di dunia ini sebelum pindah ke akhirat Justru itu Nabi bersabda “Jauhilah tujuh perkara besar yg merusak. Para sahabat bertanya Apakah tujuh perkara itu ya Rasulullah? Jawab Nabi yaitu 1} menyekutukan Allah; 2} sihir; 3} membunuh jiwa yg oleh Allah diharamkan kecuali krn hak; 4} makan harta riba; 5} makan harta anak yatim 6} lari dari peperangan; 7} menuduh perempuan-perempuan baik terjaga dan beriman.” Sebahagian ahli fiqih menganggap bahwa sihir itu berarti kufur atau membawa kepada kufur. Sementara ada juga yg berpendapat ahli sihir itu wajib dibunuh demi melindungi masyarakat dari bahaya sihir. AI-Qur’an juga telah mengajar kita supaya kita suka berlindung diri kepada Allah dari kejahatan tukanq sihir yaitu firman-Nya ” dari kejahatan tukang meniup simpul.” Peniup simpul salah satu cara dan ciri yg dilakukan ahli-ahli sihir. Dalam salah satu hadis dikatakan “Barang siapa meniup simpul maka sungguh ia telah mensihir dan barang siapa mensihir maka sungguh ia telah berbuat sirik.” Sebagaimana halnya Islam telah mengharamkan pergi Ke tempat dukun utk menanyakan perkara-perkara ghaibmaka begitu juga Islam mengharamkan perbuatan sihir atau pergi ke tukang sihir utk mengobati suatu penyakit yg telah dicubakan kepadanya atau utk mengatasi suatu problema yg dideritanya. Cara-cara semacam ini tidak diakuinya oleh Nabi sebagai golongannya. Sebagaimani sabdanya “Tidak termasuk golongan kami barangsiapa yg mengangap sial krn alamat atau minta ditebak kesialannya dan menenung atau minta ditenungkan atau mensihir atau minta disihirkan.” lbnu Mas’ud juga pernah berkata “Barangsiapa pergi ke tukang ramal atau ke tukang sihir atau ke tukang tenung kemudian ia bertanya dan percaya terhadap apa yg dikatakannya maka sungguh dia telah kufur terhadap apa yg diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.” Dan bersabda pula Rasulullah SAW “Tidak akan masuk syorga pencandu arak dan tidak pula orang yg percaya kepada sihir dan tidak pula orang yg memutuskan silaturrahmi.” Haramnya sihir di sini tidak hanya terbatas kepada si tukang sihirnya saja bahkan meliputi tiap yg percaya kepada sihir dan percaya kepada apa yg dikatakan oleh si tukang sihir itu. Lebih hebat lagi haram dan kejahatannya apabila sihir itu dipergunakan utk tujuan-tujuan yg haram seperti menceraikan antara suami-isteri mengganggu seseorang dan sebagainya yg biasa dikenal di kalangan ahli-ahli sihir. Sumber
    Al-Halal Wal Haram Fil Islam Syaikh Muhammad Yusuf Qardhawi
    Rahasia Keampuhan Dukun dan Pandangan Islam Terhadapnya Abu Umar Abdillah sumber file al_islam.chm

No comments:

Post a Comment